Project TAL mengusung inspirasi dari topeng tradisional Tal Korea serta mitologi sekaligus cerita rakyat yang menyertainya. Melalui pendekatan ini, pengembang berupaya menghadirkan dunia fantasi yang sarat nuansa budaya, sekaligus menawarkan narasi emosional tentang upaya menyembuhkan dunia yang terluka.
Trailer perdana memperlihatkan sistem pertarungan sinematis dan cepat. Pemain dapat memanjat monster raksasa untuk melancarkan serangan mematikan, mengeksploitasi titik lemah musuh, hingga melakukan serangan balik taktis dan kombinasi jurus.
Salah satu fitur utama adalah sistem pendamping (companion system). Setiap NPC pendamping memiliki kepribadian, peran, dan kemampuan unik—mulai dari bertahan, mendukung, menyerang jarak dekat, jarak jauh, hingga sihir.
Mereka akan merespons gaya bermain dan kondisi lingkungan secara dinamis, menciptakan momen kerja sama mulus, seperti menangkap rekan yang terjatuh atau membangun penghalang magis untuk menahan serangan lawan techpowerup.com.
CEO Wemade Max, Sohn Myun-seok, menyebut Project TAL sebagai perpaduan antara kisah emosional dan pertarungan penuh adrenalin. Dengan dukungan keahlian teknis Madngine, proyek ini ditargetkan mampu bersaing di panggung global sebagai judul AAA.
Meski baru diumumkan, Project TAL sudah memicu diskusi hangat di komunitas. Sebagian gamer membandingkannya dengan Dragon’s Dogma, sementara yang lain menyoroti penggunaan Unreal Engine 5 yang kerap menuai kritik soal performa. Namun, daya tarik mitologi Korea yang jarang diangkat dalam RPG modern membuat game ini dinilai memiliki potensi besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News