GT 1030 memang tidak dirancang spesifik kebutuhan gaming. Ia lebih menyasar ke penggunaan multimedia untuk PC rumah dan kantoran.
Menurut PC World, GT 1030 hadir layaknya GTX 1050 yang dipangkas spesifikasinya. Kartu grafis ini memiliki 384 CUDA core, atau setengah dari CUDA core yang ada di GTX 1050. Selain itu, kartu grafis ini menggunakan memory interface sebesar 64-bit, 50 persen lebih rendah dari GTX 1050 yang masih menggunakan memory interface 128-bit.
GT 1030 mengadopsi VRAM sebesar 2GB, dan memiliki boost clock hingga 1468MHz dengan resolusi maksimal yang bisa ditampilkan adalah 7680 x 4320 pixel. Kartu grafis ini juga hanya mampu menampilkan gambar dengan refresh rate 60Hz, membuatnya kurang cocok dikatakan sebagai kartu grafis untuk esport.

Untuk output-nya, kartu grafis ini mengandalkan DisplayPort 1.4, HDMI 2.0b dengan HDCP 2.2, dan Dual-Link DVI. Versi reference VGA ini menggunakan desain yang memakan tempat hingga dua slot, namun beberapa vendor sudah merilis kartu grafis GT 1030 versi satu slot. NVIDIA tidak memberi tahu berapa konsumsi dayanya, namun merekomendasikan power supply berdaya 300W pada PC yang menggunakan kartu grafis ini.
Keberadaan GT 1030 memang cukup menarik karena NVIDIA sudah cukup lama tidak bermain di lini kartu grafis untuk PC rumah dan kantoran. Dirilisnya kartu grafis ini kemungkinan besar dipicu oleh kemunculan Radeon RX 550 yang mengincar pasar serupa. NVIDIA tampaknya ingin menjegal kartu grafis AMD tersebut.
Untuk harganya, GT 1030 dibanderol USD70 atau sekitar Rp930 ribu. Karena kartu grafis ini tidak menyasar pasar gaming, ia tidak dibekali dengan fitur seperti G-Sync, Ansel, dan GameStream, namun masih kompatibel dengan GeForce Experience.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News