Belgia Gelar Penyelidikan Terhadap EA
Kantor EA. (Paul Brinkmann)
Jakarta: Buntut dari sikap EA (Eletronic Arts) yang enggan menghapus Loot Box untuk game mereka di Belgia akhirnya dirasakan. Pemerintah setempat kini melakukan investigasi kriminal kepada EA, dikutip dari Eurogamer.

Hal ini sebagai langkah terbaru pemerintah Belgia yang menyatakan tegas di bulan April lalu bahwa fitur loot box termasuk dalam perjudian, dan memerintahkan penerbit yang memiliki fitur tersebut di dalam game buatannya untuk dihapus.

Sebetulnya bukan cuma EA, ada juga Blizzard, Valve dan 2K Games namun ketiga publisher barusan tunduk dan menghapuskan fitur loot boxes sementara EA enggan melakukannya di game Star Wars Battlefront II dan FIFA 18.


Alasannya seperti yang dilontarkan oleh EA sejak akhir 2017 saat isu ini mengemuka di Belgia, EA beranggapan bahwa loot box bukan kegiatan perjudian, karena gamer mendapatkan konten atas pembelian atau transaksi yang mereka lakukan.

Loot box adalah konten berbayar yang gamer bisa dapatkan dengan cara melakukan transaksi. Sayangnya, konten yang akan didapatkan bersifat acak, sehingga sebetulnya tidak berbeda jauh dengan Anda membeli tiket undian, dan membuat penggunanya ketagihan.

Di bulan Juli, gamer asal Inggris memanfaatkan GDPR (General Data Protection Regulation), kebijakan perlindungan data yang berlaku di Inggris untuk mengakses data pribadi pengguna.

Dia mengajukannya kepada EA untuk mengetahui uang sudah dihabiskan untuk membeli konten sejenis loot box di game FIFA 17 dan FIFA 18 selama dua tahun. Ternyata dia sudah menghabiskan uang sebanyak Rp144 juta.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Menteri Kehakiman Belgia Koen Geens berkata, jika loot box dalam game-game yang disebutkan di atas tidak dihilangkan, penerbit mereka bisa terancam 5 tahun penjara dan denda hingga EUR800 ribu (Rp13,6 miliar). Jika ada anak-anak yang terlibat, maka hukuman itu bisa digandakan.

Belanda termasuk yang juga menanggap loot boxes sebaga konten perjudian, sementara Inggris dan Selandia baru tidak mempermasalahkannya. Amerika Serikat sendiri tengah mempelajari loot box agar tidak diakses anak di bawah umur.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.