Review Game

Assassin's Creed Odyssey, Kandidat Game Terbaik Tahun Ini

Cahyandaru Kuncorojati 16 November 2018 07:31 WIB
gamesreview game indonesiaubisoft
Assassins Creed Odyssey, Kandidat Game Terbaik Tahun Ini
Assassin's Creed Odyssey.
Jakarta: Kesuksesan Assassin's Creed Origins menjadi gebrakan sukses Ubisoft. Ini tidak terlepas dari unsur RPG (Role Playig Game) dalam menyegarkan franchise Assassin's Creed.

Unsur RPG kembali diperkuat di Assassin's Creed Odyssey yang tetap berusaha menyajikan pengalaman baru dari sistem RPG yang cukup matang dan bagus di Assassin's Creed Origins.


Pemandangan Peradaban Yunani Kuno
Pertama, hal yang paing dinantikan adalah latar cerita yang diadopsi franchise game ini. Assassin's Creed Odyssey mengambil latar Yunani Kuno tahun 431 Sebelum Masehi tepatnya 400 tahun sebelum momen Assassin's Creed Origins. Pada saat itu, sedang terjadi Perang Peloponnesian, yang melibatkan negara-negara seluas kota, dengan dua pemimpin utama Sparta dan Athena.


Pemain disuguhkan tampilan kota-kota dan artsitektur gaya bangunan peradaban Yunani Kuno yang dihiasi oleh patung dewa-dewi mitologi. Kondisi geografisnya diisi oleh padang rumput, hutan, bukit, pulau, dan laut yang bisa diarungi dan diselami.



Tampilan kondisi malam dengan penerangan lilin atau obor api dan menjelang pagi tampil sangat dramatis dengan tampilan bayangan yang presisi. Medcom.id menemukan saat waktu pagi hari di permainan akan muncul sebuah kabut dan cahaya matahari yang terik seperti aslinya.

Berbeda dengan Assassin's Creed Origins yang didominasi padang gurun, arena permainan Assassin's Creed Odyssey juga didominasi lautan dengan mengambil lokasi di Laut Aegea. Arena permainan di di kota maupun pulau tergolong sangat luas.



Saking luasnya, Anda bisa merasakan perjalanan menggunakan kapal dari ujung arena ke ujung lainnya dengan waktu yang tidak sebentar. Hal ini memang tidak memgherankan karena arena permainan Assassin's Creed Odyssey jauh lebih besar dari seri Origins.


Bukan Pertarungan Assassin dan Templar
Franchise Assassin's Creed sangat lekat dengan pertarungan antara ordo Assassin dan Templar dengan mengaitkan era dari latar cerita. Ubisoft cukup sadar untuk tidak memasukkan pertarungan antara dua ordo dalam sebuah era Yunani Kuno karena dua ordo tersebut memang belum ada.

Berlatar Perang Peloponnesian antara Athena dan Spartan, dikisahkan dua bersaudara karakter protagonis yang bisa dimainkan yakni Alexios dan Kassandra, cucu dari Raja Sparta Leonidas I yang dalam sejarah memimpin Perang Thermopylae melawan pasukan Persia.



Salah satu dari kedua bersaudara ini berusaha mempersatukan keluarga melalui beragam plot dan peristiwa penting di era tersebut. Cerita utamanya mungkin tidak akan seserius kisah pertarungan antara ordo Assassins dan Templar, yang menjadi sebuah penyegaran dari Ubisoft.

Protagonis Perempuan Tanpa Batas
Assassin's Creed Unity menyediakan dua pilihan karakter protagonis yang bisa dimainkan sepenuhnya. Ini juga jadi debut bagi karakter perempuan Kassandra.

Ini berbeda dengan seri Assassins Creed Syndicate yang menyediakan pilihan bermain sebagai karakter perempuan yang dimainkan secara bergantian dengan karakter perempuan karena keduanya memiliki gaya bertarung yang berbeda.



Jangan samakan dengan Assassin's Creed Liberation maupun Chronicles China yang memang menjadikan Assassin perempuan Aveline dan Shao Jun sebagai karakter utama. Kali ini pemain hanya bisa memilih salah satunya hingga menamatkan jalan cerita.

Assassin's Creed mengisahkan usaha karakter protagonis untuk bertemu kembali dengan sang ibu dan saudaranya yakni karakter protagonis satu lagi yang terpisah saat kecil karena sebuah ramalan palsu.



Karakter manapun yang dipilih, pria (Alexios) atau perempuan (Kassandra) akan memiliki titik plot cerita yang sama. Ini juga berlaku untuk akhir cerita

Soal dialog fitur ini adalah fitur terbaru di franchise Assassin's Creed, konsep ini sedikit mengikuti The Witcher 3 dan Mass Effect yang sudah lebih dulu menyediakannya. Ada opsi pemain harus memilih dialog secepat mungkin, sebelum konsekuensi dari dialog terpaksa ditentukan.

Opsi dialog ini berpengaruh banyak terhadap misi-misi sampingan, dan sedikit berpengaruh terhadap misi utama jalan cerita. Pilihan dialog yang berbeda-beda akan menentukan hasil dari misi sampingan yang pemain terima atau bentuk misi selanjutnya.



Sistem RPG dan Gaya Bertarung yang Tidak Seperti Assassin
Sistem RPG seperti mengumpulkan experience point dari mengalahkan musuh, menyelesaikan misi sampingan dan misi utama untuk menaikkan level karakter dan memperoleh skil dari sistem skill tree dari Assassin's Creed Origins masih dihadirkan.

Pembagian skill atau keahlian juga masih dibagi menjadi beberapa jenis gaya serangan yang akan berpengaruh terhadap jumlah serangan yang dilontarkan untuk masing-masing gaya bertarung.



Semua skill sangat menarik. Paling menarik adalah tendangan Sparta ala film 300 yang bisa melontarkan musuh. Pada tingkat kesulitan permainan paling mudah disediakan fitur reset skill sehingga poin yang semua skill bisa dikembalikan dan digunakan sesuai keinginan Anda.

Medcom.id menemukan bahwa gaya bertarung karakter di Assassin's Creed Odyssey tidak lagi sepenuhnya seperti Assassin's Creed. Selama ini gaya bertarung brawler atau pukulan dan tendangan serta ayunan senjata menjadi lebih sering dihadirkan ketimbang diam-diam menikam musuh.



Hal ini menjadi dampak dari penggunaan sistem skill dan menyediakan gameplay pertarungan ala Assassin's Creed Origins. Medcom.id sendiri merasa tidak terganggu mengingat latar perang dan ksatria di era Yunani Kuno memang demikian gaya bertarungnya.

Namun pilihan skill yang mendukung gaya menghabisi lawan ala Assassins tetap berlaku. Sistem pertarungan sejauh ini masih sama seperti di Assassin's Creed Origins termasuk sistem crafting senjata dan perlengkapan.


Misi Repetitif tapi Tak Membosankan
Misi di Assassin's Creed sebetulnya repetitif atau mengulang, mulai dari menghabisi musuh atau mencari sesuatu dalam jumlah yang ditentukan namun Ubisoft mengakalinya sehingga tidak membosankan.

Sistem RPG membuat pemain bisa menerima misi dalam jumlah banyak namun karena bentuknya cukup beragam dan tumpang tindih dengan misi lainnya maka pemain tidak akan bosan dan justru dituntut untuk mengeksplorasi setiap titik lokasi arena permainan.



Tersedia opsi untuk memainkan mode Exploration Mode. Lokasi tujuan misi atau target tidak akan diberikan titik penanda di lokasi melainkan hanya petuntuk arah mata ingin atau patokan.

Setiap misi sampingan diberikan narasi atau cerita pengiring yang menarik, mengingat setiap minggu Ubisoft menggulirkan misi khusus dengan periode terbatas dan imbalan menarik maka permainan tidak akan pernah bosan.

Setiap kali pemain dengan brutal diketahui musuh dalam melancarkan aksinya atau membantai warga yang tidak bersalah, sayembara untuk menghabisi Anda digelar. Dari sini ada fitur bernama Mercenaries, semakin tinggi bounty hunter Anda maka pembunuh bayaran yang memburu Anda semakin banyak dengan level lebih tinggi dari Anda.



Misi berupa naval battle atau pertempuran kapal juga kembali disajikan. Medcom.id mendapatkan pengalaman naval battle pada Assassin's Creed Black Flag dengan sistem upgrade yang sangat lengkap, tapi dibutuhkan sumber daya yang tidak hanya uang.



Kesimpulan
Assassin's Creed Odyssey harus diakui mendapat acungan jempol karena franchise Assassin's Creed kali ini hadir dengan sedikit cela, tidak seperti seri terdahulu, baik dari gameplay maupun latar cerita.

Kekurangan yang Medcom.id temukan adalah tahap loading game yang tergolong lama, bahkan lebih lama dibandingkan seri Assassin's Creed lainnya.

Glitch atau keanehan dalam game masih cukup terasa. Karakter musuh, NPC, maupun hewan yang diburu kerap melakukan gerakan aneh. Seperti berlarian dalam satu arah berputar dan menyangkut atau berjalan ke arah yang salah seakan tidak terjadi apa-apa.

Sejauh ini, Assassin's Creed Odyssey menjanjikan permainan yang sangat panjang dan puluhan jam untuk menyelesaikan semua misi sampingannya, mengingat Ubisoft berkomitmen menggulirkan misi berkala dan DLC.

Platform: PS4, Xbox One, PC
Developer: Ubisoft Quebec-Montreal
Publisher: Ubisoft
Tanggal Rilis: 5 Oktober 2018
Genre: Action-RPG
 
 
9.6
Assassin's Creed Odyssey
Plus
  • Visual grafis memukau dan detil
  • Ukuran arena permainan lebih luas
  • Karakter protgonis perempuan
  • Sistem RPG dan Naval Battle
  • Side quest selalu baru
Minus
  • Loading game cukup lama
  • Glitch pada NPC
  • Misi yang repetitif

 



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.