Munculnya genre MOBA yang bersifat sangat kompetitif serta membludaknya game action membuat game strategi sudah jarang diminati gamer. Apalagi, mengingat game strategi termasuk yang paling sulit untuk dipelajari.
Penyebab lain, game-game strategi terbaru tidak berhasil menghadirkan inovasi yang dapat menghadirkan pengalaman bermain berbeda. Dalam arti lain, game strategi hingga saat ini hanya menawarkan gameplay yang stagnan, tidak berbeda dengan game sebelumnya, sehingga kurang menarik untuk dimainkan. Membosankan.

Di saat pengembang game lain beramai-ramai mengembangkan game action open-world atau game kompetitif, Oxide Games justru masih bersikukuh ingin mengembangkan Ashes of the Singularity. Game real-time strategy (RTS) tersebut memang masih dalam pengembangan tahap beta. Namun, ia memiliki cita-cita besar, yaitu mengembalikan game strategi seperti pada masa kejayaannya di awal tahun 2000-an dulu. Bagaimana Ashes of the Singularity akan melakukan hal tersebut?
Grafis tentu akan berperan penting, mengingat game modern saat ini juga saling berkompetisi untuk menghadirkan kualitas grafis terbaik. Namun bagi sebuah game strategi, mekanis game adalah hal terpenting yang harus diperhatikan oleh pengembangnya, termasuk Oxide.

Jika Anda pernah bermain Warcraft atau Warhammer, fokus bermain keduanya lebih pada pengontrolan unit dalam skala kecil. Game strategi seperti ini biasanya menuntut Anda untuk dapat memerintahkan unit tersebut untuk bermanuver selincah mungkin. Tak jarang game seperti ini juga memiliki unit hero yang hanya tersedia dalam sekali buat dan memiliki kemampuan di atas rata-rata unit lainnya.
Atau mungkin Anda pernah bermain Starcraft dan seri game Command and Conquer yang memiliki sistem manajemen unit dengan skala lebih besar. Kedua game tersebut memang berbeda dengan Warcraft dan Warhammer karena unit yang bisa dibuat lebih banyak, serta memiliki skala peperangan lebih besar.

Ashes of the Singularity berada di atas kedua jenis game sebelumnya. Game strategi ini menawarkan skala peperangan super besar, yang mana Anda diminta untuk mengomandani berbagai armada perang untuk menaklukan musuh. Jika Warcraft dan Warhammer lebih bergantung pada pengontrolan unit, Ashes of the Singularity memiliki gameplay yang lebih berfokus pada pengontrolan armada perang. Armada tersebut terdiri-dari unit-unit kecil, menengah, hingga unit utama yang berupa Capital Ship atau Dreadnought.
Karena memiliki gameplay dengan mekanis yang unik tersebut, Ashes of the Singularity sangat bergantung pada strategi penguasaan wilayah, penguasan sumber daya, dan jumlah pasukan. Dalam game ini, Anda tidak perlu khawatir jika satu unit Anda hancur oleh musuh. Cukup buat unit lagi yang lebih banyak, dan serang musuh Anda.

Ashes of the Singularity memang terlihat seru dan simpel dari luar, namun cukup rumit dari dalam. Seperti game RTS pada umumnya, Anda tidak hanya main dan bertempur. Anda juga harus melakukan manajemen unit, manajemen markas, dan yang terpenting adalah manajemen sumber daya.
Ada empat sumber daya di dalam game ini, yaitu Metal, Radioactive, Quanta, dan Logistic. Quanta didapat dari Quantum Gate, bangunan yang dapat menghasilkan Quanta secara otomatis. Logistic merupakan batasan unit yang bisa dibuat dan didapat dari melakukan upgrade dengan menggunakan Quanta. Sedangkan Metal dan Radioactive didapat dari titik-titik tertentu di sepanjang peta permainan dengan cara membuat mesin penambang.

Titik-titik tersebutlah yang mengundang konflik dalam game ini, karena setiap titik dihubungkan dengan jalur suplai yang tentunya akan mengarah ke markas musuh. Dari sekitar 10 jam saya bermain Ashes of the Singularity, menjaga titik-titik suplai ini merupakan penentu kemenangan. Untuk itulah, saya tak segan-segan menurunkan dua atau tiga armada besar untuk menjaga lokasi strategis yang dihubungkan oleh titik suplai tersebut.
Dari sekitar 10 jam saya bermain Ashes of the Singularity, menjaga titik-titik suplai ini merupakan penentu kemenangan.
Hal yang paling seru dari Ashes of the Singularity adalah ketika armada saya bertemu dengan armada musuh dan saling serang. Ketika hal tersebut terjadi, perang besar pun tak terhindarkan lagi. Faktor yang menjadi penentu kemenangan sebuah armada perang di game ini adalah kombinasi unit yang digunakan, upgrade yang telah dibeli, dan tentunya jumlah unit yang dibawa untuk maju ke medan perang.

Satu-satunya kekurangan yang saya temukan dalam game ini adalah proses seleksi beberapa unit yang agak sulit di dalam game. Hal tersebut karena unit tersebut memiliki ukuran yang kecil, bahkan gerakannya sangat lincah. Salah satu unit yang sulit diseleksi ketika terjadi pertempuran besar adalah unit pesawat. Selain posisinya berada di atas unit lainnya, pesawat juga memiliki gerakan yang lincah.
Ashes of the Singularity juga merupakan game pertama yang telah mendukung teknologi grafis DirectX 12. Dengan teknologi tersebut, pemain yang menggunakan Windows 10 akan memiliki performa grafis yang lebih baik karena DirectX 12 hadir dengan fitur Asynchronous Compute yang memungkinkan pemrosesan grafis dapat berjalan dengan cepat. Tentunya, Anda harus menggunakan kartu grafis yang benar-benar telah mendukung teknologi tersebut.

Saya pribadi sempat menjajal game ini di dua kartu grafis, yaitu ASUS STRIX Radeon R9 390X dan HIS Radeon R9 270X IceQ X2. Di kedua kartu grafis tersebut game ini berjalan sangat lancar, bahkan saat peperangan besar terjadi yang mana banyak sekali melibatkan efek grafis, mulai dari pergerakan unit, hingga penggambaran animasi proyektil yang dilontarkan oleh masing-masing unit.
Menariknya, kartu grafis HIS Radeon R9 270X IceQ X2 masih mampu memainkan game ini dengan lancar di pengaturan grafis medium-high dan berhasil memperoleh framerate 30 hingga 40 fps. Sementara kartu grafis ASUS STRIX Radeon R9 390X mampu memainkan game ini di pengaturan grafis maksimal dengan framerate di atas 60fps.
Kesimpulan
Meski masih dalam tahap beta dan belum memiliki mode Story atau Campaign, saya sangat puas dengan apa yang ditawarkan oleh Oxide Games dalam Ashes of the Singularity. Oxide berhasil menghadirkan game RTS dengan inovasi baru, namun dengan tidak meninggalkan acuan game RTS.
Dikombinasikan dengan mekanis game yang masih memiliki "learning curve" tajam yang menjadi ciri khas game RTS, Ashes of the Singularity bagi saya telah berhasil menghadirkan sesuatu yang telah lama ditunggu penggemar game RTS, yaitu perang dengan skala yang lebih besar.
Apakah Ashes of the Singularity akan mampu mempopulerkan game RTS kembali? Saya rasa sangat bisa, namun kita tunggu saja versi full release-nya nanti. Jika Anda penasaran dengan game ini, Anda bisa menyaksikannya di video pada tautan berikut ini:
Platform: PC
Developer: Oxide Games
Publisher: Stardock
Tanggal Rilis: TBA
Jenis: Real-Time Strategy
Situs Resmi: https://www.ashesofthesingularity.com/
Ashes of the Singularity Beta
9
- Skala peperangan super besar
- Mudah dipelajari
- Mendukung DirectX 12
- Kontrol seleksi unit agak sulit
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News