Pada akhir tahun pertama penjualan, NES berhasil terjual sebanyak lebih dari 1 juta unit. Penjualan Master System jauh lebih sedikit, yaitu 125 ribu unit. Keduanya berusaha untuk menemukan tren baru dalam industri gaming dan mengalahkan pesaingnya di pasar.
Famicom buatan Nintendo meraih sukses besar di Jepang pada 1987, lapor Kotaku. Konsol tersebut juga memperkenalkan Disk System, yang memungkinkan pengguna untuk memainkan game ekstra via floppy disk. Walau cukup sukses di Jepang, Nintendo tidak pernah membawa konsol mereka ke negara asing. Ini adalah hal yang biasa mereka lakukan.
Mereka menguji produk di Jepang dan menyesuaikan rencana mereka berdasarkan jumlah penjualan. Di pasar luar Jepang, Nintendo justru fokus pada penjualan aksesori seperti Famicom Light Gun (yang juga dikenal dengan nama NES Zapper) dan robot ROB karena dianggap lebih menarik bagi masyarakat di luar Jepang.
Foto: Kotaku
Famicom 3D System merupakan salah satu eksperimen gagal Nintendo. Perangkat tersebut tidak pernah diluncurkan di luar Jepang. Perangkat itu hanya kompatibel dengan 6 game dan banyak pengguna yang protes akan headset yang tidak nyaman untuk digunakan.
Hal ini membuatnya terlupakan oleh masyarakat. Satu-satunya pencapaian dari perangkat itu adalah karena ia bisa digunakan untuk memainkan game racing Mario pertama yang dinamai Famicom Grand Prix II: 3D Hot Rally. Game 3D racing Mario, Mario Kart 7, baru dibuat 24 tahun setelah game tersebut.
Sementara Nintendo menguji pasar dan mengamati selera konsumen mereka, Sega berusaha untuk mengalahkan pesaingnya itu. Nintendo membuat Sega kesulitan karena memaksa developer software untuk fokus pada Famicom. Sega melawan dengan membuat game merka sendiri. Sayangnya, Mark III memang tidak bisa bersaing dengan Famicom, baik dari segi kualitas atau jumlah game yang tersedia.
Foto: Kotaku
Satu bulan setelah peluncuran Famicom 3D System, Sega meluncurkan perangkat 3D gaming mereka sendiri, yaitu SegaScope 3D Galesses. Sega bertaruh dengan meluncurkan kacamata 3D buatannya di 3 pasar besarnya, yaitu Jepang, Amerika Utara dan Eropa. Kacamata ini bisa digunakan untuk memainkan 8 game Master System yang berbeda. Sayangnya, lagi-lagi usaha Sega gagal.
Satu hal yang menarik adalah baik Nintendo dan Sega sama-sama berusaha untuk meluncurkan aksesori visual dengan teknologi yang begitu canggih 30 tahun lalu.
Untuk mengerti efek 3D pada Famicom 3D System dan SegaScope, Anda harus mengerti konsep alternate frame sequencing. Berbeda dengan 3D yang digunakan dalam film dan konsol modern, alternate frame sequencing masuk ke dalam kategori "3D aktif" yang bisa dicapai menggunakan shutter glasses.
Dengan memaksa pengguna melihat menggunakan satu mata dan berganti ke mata yang lain, shutter glasses memaksa otak pengguna untuk menggabungkan gambar yang dilihat pada sisi kanan dan kiri layar. Hal inilah yang menimbulkan ilusi kedalaman pada gambar.
Foto: Locafox.de
Teknologi ini sudah tidak lagi digunakan dengan munculnya teknologi baru "3D pasif", yang menggantungkan diri pada tampilan dan kacamata terpolarisasi non-elektrik.
Beberapa tahun sekali, muncul teknologi 3D gaming baru, walau selama ini, belum ada teknologi yang sukses. Pada 1995, Nintendo berusaha untuk mempromosikan 3D jenis lain dengan Virtual Boy, yang gagal menuai sukses.
Belakangan, Nintendo berusaha merendahkan kemampuan 3D dari konsol handheld 3DS mereka dengan meluncurkan varian non-3D yang dinamai 2DS. Mengingat sejarah kegagalan 3D gaming dan munculnya teknologi virtual teknologi, semakin sedikit developer yang mau mengembangkan game 3D.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News