MPL disebutkan Joseph tidak hanya menjadi platform turnamen, tapi juga menyediakan panggung bagi developer game lokal untuk bisa dikenal oleh pasar.
"Developer lokal adalah salah satu pemangku kepentingan utama yang harus digandeng, dan MPL terjun ke pasar ini membawa penawaran bisnis yang bisa membantu mereka berkembang dengan cepat," tuturnya.
"Dalam beberapa bulan kami berfokus di Indonesia, kami menyaksikan dan bertemu sendiri dengan beberapa developer lokal yang memiliki potensi besar, dan kami akan mendukung mereka sepenuhnya," imbuhnya.
Dijelaskan bahwa developer juga bisa memperoleh penghasilan dengan menyediakan game mereka untuk tersedia di platform MPL. Tentu saja penghasilan tersebut nantinya bisa menjadi model bagi developer mengembangkan game yang sudah ada dan populer atau menciptakan yang baru.
"Pertama-tama, kita harus mengerti bahwa developer lokal di Indonesia pada praktiknya hanya punya dua cara untuk menghasilkan uang, yaitu dengan cara menjual game mereka atau monetisasi melalui iklan," tutur Joseph.
"Jika mereka memilih untuk menjual game, ini terbukti sangat sulit karena kerelaan pengguna Indonesia mengeluarkan uang untuk game masih sangat rendah. Lalu, banyak pesaing dari luar yang menawarkan banyak game berkualitas dengan harga murah, bahkan gratis," jelasnya.
Joseph menyebut biasanya developer asing punya anggaran lebih besar untuk pemasaran sehingga developer Indonesia umumknya kalah dalam hal ini. Akibatnya game lokal kurang mendapat perhatian.
"Monetisasi via iklan juga sangat sulit di Indonesia karena angka CPM-nya sangat rendah, dan masih akan tetap seperti ini dalam waktu dekat. Rendahnya CPM berdampak ke pengembang lokal, mereka dipaksa mengejar skala masif jika ingin melihat pemasukan dari iklan yang berarti," beber Joseph.
"Mengejar skala masif lagi-lagi membutuhkan anggaran pemasaran yang
besar, dan ini tidak dimiliki oleh banyak pengembang lokal kita," imbuh Joseph.
Di Mobile Premier League diterapkan metode Licensing atau Revenue Sharing yang diklaim memberikan lebih banyak keuntungan bagi pengembang lokal. Misalnya, monetisasi dengan menyediakan dukungan bagi game developer lokal untuk dibuatkan turnamen di MPL.
"Tidak ada persaingan dari developer besar atau asing karena MPL Indonesia berfokus bekerja sama dnegan developer lokal," ungkap Joseph. Dia juga mengklaim tidak ada biaya atas pendistribusian aplikasi. Apabila suatu hari nanti diberlakukan, diklaim MPL bahwa biayanya jauh lebih rendah dibandingkan platform Google dan Apple.
Josep menyebutkan sedang bekerja sama dengan berbagai developer lokal yang didukung oleh Bekraf melalui Game Prime, Bekraf Developer Day, dan dalam waktu dekat Bekraf Festival.
"Kami menawarkan kerja sama bisni yang lebih baik bagi para developer untuk meningkatkan pemasukan dari berbagai game karya mereka. Dengan menampilkan game di platform kami, game lokal akan lebih tersorot dan dilihat oleh target pengguna yang tepat, tak sekedar menjadi bagian dari ribuan aplikasi yang tersedia untuk umum," tutur Joseph.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News