Review Game

Melihat Manusia Hidup Bersama Robot di Detroit: Become Human

Mohammad Mamduh 16 Juli 2018 12:30 WIB
sonyplaystation
Melihat Manusia Hidup Bersama Robot di Detroit: Become Human
Detroit: Becom Human untuk PS4
Jakarta: Detroit: Become Human, ini adalah salah satu game yang dinilai berhasil mengundang rasa penasaran para gamer PS4 saat pertama kali diumumkan. Game buatan Quantic Dream ini kembali menghadirkan gaya bermain eksklusif seperti Heavy Rain.

Apa yang membuatnya berbeda adalah teknik bermain yang tidak mengutamakan unsur aksi seperti game action-adventure pada umumnya. Sudut pandang ini memberikan sensasi yang berbeda, tidak rasa berdebar yang cenderung pada efek ledakan.

Game ini sudah meluncur sejak bulan Mei lalu, dan Medcom.id juga mendapatkan kesempatan untuk menjajalnya. Saya sendiri sebelumnya pernah bermain Heavy Rain yang tersedia untuk PlayStation 3. Apakah Detroit: Become Human bisa sesukses pendahulunya?


Detroit: Become Human menggunakan latar cerita yang spesial, yaitu masa depan manusia yang hidupnya telah ditemani Android atau robot berbentuk manusia. Android pada saat itu menjadi komoditas yang menjanjinkan, dan memberikan pengaruh yang cukup besar, secara positif dan negatif ke kehidupan manusia.



Teknologi canggih dan otomasi tampil lebih rasional, seperti dalam aspek transportasi. Dalam Detroit: Become Human, banyak manusia yang menyambut baik Android yang diciptakan perusahaan bernama Cyberlife ini, tetapi tidak banyak yang memperlakukan mereka lebih buruk dari budak manusia sesungguhnya.

Game ini menawarkan tiga sudut pandang dari tiga Android bernama, Connor, Kara, dan Markus. Connor adalah Android bantuan untuk polisi khusus investigasi, sementara Kara dan Markus menjalani perannya sebagai asisten rumah tangga. Kara dan Markus hidup di keluarga yang berbeda dari segi tingkat kesejahteraan.

Salah satu benang merah dalam Detroit: Become Human adalah bagaimana manusia memperlakukan Android, seandainya nanti mereka berhasil menciptakannya. Manusia sendiri bersemangat menciptakan makhluk yang bisa meringankan beban hidup mereka. Di sisi lain, mereka tidak sepenuhnya menerima makhluk ciptaan tersebut meniru cara hidup, bahkan bisa dibilang lebih baik dari manusia.



Kisah setiap karakter Detroit: Become Human sangat menarik. Saya bisa melihat langsung bagaiman sikap manusia ketika punya sebuah asisten pribadi yang sanggup mengikuti semua perintah mereka tanpa bantahan sekalipun.

Ternyata, kepuasan manusia melahirkan rasa serakah yang pada akhirnya membuat mereka merasa superior, dan merendahkan Android yang sudah mereka beli atau diajak kerja sama. Di sisi lain, kecerdasan buatan akan mengalami evolusi, dan Android bisa jadi punya pemikiran rasional yang mirip manusia.

Apa yang menarik dari Detroit: Become Human adalah jalan cerita yang sangat bergantung pada keputusan pemain. Baik Connor, Kara, dan Markus punya kisah hidup yang berujung pada akhir yang bermacam-macam.



Setiap langkah yang diambil pemain akan berpengaruh terhadap interaksi karakter lainnya, dan nasib ketiganya sendiri. Analisis yang akurat akan membuat Connor mampu menyelesaikan kasus dengan baik. Namun, hal yang sama tidak akan terjadi jika Connor lebih suka bekerja dengan kekerasan.

Sebagian gamer mungkin berpikir bahwa ketergantungan jalan cerita terhadap keputusan pemain tidak akan begitu terlihat.

Agar lebih meyakinkan, pihak developer memasang bagan kecabangan cerita yang nantinya bisa dilihat setiap akhir misi, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Detroit: Become Human ingin mengajak pemainnya untuk mengeksplorasi semua kemungkinan yang bisa dijalankan pemain, bahkan dalam keputusan remeh sekalipun.



Detroit: Become Human juga menawarkan cara interaksi yang spesial. Bukan hanya berlari mengelilingi lingkungan dan berinteraksi dengan NPC, pemain juga diminta beraksi dengan menekan beberapa tombol yang tidak umum. Bisa dibilang, Detroit: Become Human menawarkan gaya bermain QTE (Quick Time Event) yang cukup intensif.

Anda bisa saja menggunakan tombol yang berbeda untuk berinteraksi terhadap dua objek. Ada juga kondisi yang meminta Anda menekan tombol secara cepat dan bersambung agat bisa membuka atau menutup objek tertentu.

Hal yang paling menarik adalah eksekusi untuk setiap interaksi ini memanfaatkan banyak tombol di Dual Shock 4, sehingga permainan tidak akan terasa membosankan. Satu kekurangan yang terlihat adalah pergerakan karakter yang kurang nyaman, menyebabkan sedikit halangan ketika harus berinteraksi dengan satu objek.

Latar tempat Detroit: Become Human dibungkus dengan grafis yang mumpuni. Anda bisa melihat dunia modern dengan arsitektur semi futuristik. Di dalamnya tinggal manusia dengan gaya pakaian yang tidak berbeda dengan kita saat ini, tetapi kali ini ditemani Android yang punya tempat khusus saat mereka tidak bekerja. Android dalam Detroit: Become Human juga punya jalur sendiri saat mereka beraktivitas, dan ini memberikan mengenai fenomena yang akan terjadi ketika manusia berhasil menciptakan asisten buatan yang mirip dengan mereka.

Kesimpulan
Mengagumkan, ini adalah tanggapan saya untuk Detroit: Become Human. Game ini berhasil menawarkan sebuah gambaran masa depan yang cukup realistis.

Selain menwarkan jalan cerita dan cara bermain yang spesial, Detroit: Become Human juga menjadi satu game singleplayer yang berhasil membuktikan bahwa permainan yang populer tidak melulu harus punya dukungan multiplayer. Satu kekurangan mengenai keterbatasan pergerakkan karakter bisa dibilang hal minor yang tidak akan mengganggu permainan.


Platform: PlayStation 4
Developer: Quantic Dream
Publisher: Sony Interactive Entertainment
Tanggal Rilis: 25 Mei 2018
Genre: Action-RPG
 
 
9.2
Detroit: Become Human
Plus
  • Jalan cerita menarik, sudut vpandang eksklusif
  • Teknik permainan berikan interaksi lebih baik
  • Grafis mumpuni
  • Keputusan pemain adalah segalanya
Minus
  • Pergerakkan karakter cenderung kaku




(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.