Senior Vice President ESL APAC-Japan,Nick Vanzetti .
Senior Vice President ESL APAC-Japan,Nick Vanzetti .

Apakah ESL Mampu Bangkitkan Kompetisi Counter Strike Indonesia?

Teknologi games esports
Cahyandaru Kuncorojati • 16 Februari 2019 15:35
Jakarta: Berdiri di tahun 2000, ESL identik dnegan penyelenggara kompetisi esport Counter Strike, yang saat itu bernama Counter Strike 1.6. Game ini juga populer di Indonesia dan jadi game favorit di setiap iCafe atau sebuat saja warnet.
 
Di Indonesia ESL menggelar kompetisi esport game DOTA 2 dan Arena of Valor. Padahal di kompetisi global, saat ini ESL masih mempertandingkan game Conter Strike seri Global Offensive. Apakah ESL tidak akan membawanya ke Indonesia?
 
Medcom.idbertanya kepada Senior Vice President ESL APAC-Japan,Nick Vanzetti sekaligus menyebutkan fakta bahwa penggemar dan tim esport Counter Strike di Indonesia masih ada, tapi sepi acara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami belum tahu kapan. Saat ini kami masih akan mempertandingkan game yang tengah populer di Indonesia, Arena of Valor dan DOTA 2. Ke depannya , kami bisa membawa lebih banyak game termasuk Counter Strike dan kompetisi khusus," tutur Nick.
 
Jawaban ini masih serupa saat Nick ditanya alasan pemilihan kedua game tadi untuk kompetisi perdana ESl di Indonesia. Meskipun game fighting hadir di kompetisi esport SEA Games tahun ini tapi Nick menyebut belum ada rencana dari ESL untuk mempertandingkannya.
 
Dari jawaban Nick, jelas ESL masih meraba-raba tren esport di Indonesia. Daripada langsung membawa kompetisi game yang sukses di Eropa, ESL memilih menyesuaikan dulu dengan tren esport di sini. Termasuk rencana untuk membawa ESL One di Indonesia.
 
Hal ini sedikit berbeda dari tetangga yaitu Malaysia. Di tahun 2017 dipilih sebagai lokasi ESL One Genting. Bagaimana Indonesia? Tahun 2020 disebut Nick sebagai tenggat waktu dia bisa memberikan kesimpulan apakah bisa membawa ESL One ke Indonesia.
 
Memang agak disayangkan bahwa ESL datang ke Indonesia dengan kompetisi yang mirip dengan yang sudah ada, mempertandingkan dua game populer yang salah satunya adalah game mobile. Sisi baiknya, Indonesia mendapatkan kesempatan untuk mencicipi kompetisi kelas internasional di rumahnya sendiri.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif