(Foto: Time)
(Foto: Time)

Sering Migrain Berkaitan dengan Risiko Serangan Jantung

Rona kesehatan
Nia Deviyana • 02 Juni 2016 14:25
medcom.id, Jakarta: Migrain atau yang dikenal dengan sakit kepala sebelah merupakan kondisi nyeri hebat pada satu sisi kepala. Terkadang, disertai gejala tambahan, seperti mual, muntah, serta peka terhadap suara atau cahaya.
 
Berdasarkan data, migrain lebih banyak diderita perempuan ketimbang laki-laki. Sebuah studi baru yang diterbitkan jurnal BMJ menemukan, perempuan yang sering terkena migrain lebih berisiko terkena serangan jantung dan stroke, dibandingkan mereka yang jarang mengeluh migrain.
 
Para peneliti melakukan pengamatan selama 22 tahun terhadap 11.551 perempuan berusia 25 hingga 42 tahun. Hasil penelitian menunjukkan, 15 persen partisipan yang sering mengeluh migrain memiliki risiko serangan jantung serius sebanyak 50 persen, dibanding mereka yang jarang mengalami migrain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski demikian, peneliti belum berhasil menemukan korelasi bagaimana nyeri otak dapat berpengaruh terhadap jantung. Peneliti menduga, hal tersebut ada kaitannya dengan genetika, peradangan, atau terjadi perubahan kimia pada pembuluh darah.
 
Sementara, studi lain yang dipublikasikan dalam Jurnal Neurologi melihat hubungan antara pengaruh hormon dan migrain. Umumnya, migrain menyerang perempuan dua hari menjelang haid.
 
"Fluktuasi estrogen merupakan faktor pencetus yang paling masuk akal. Namun, fluktuasi estrogen saja tidak cukup, maka butuh penelitian lebih lanjut," ungkap Dr Nanette Santoro dari University of Colorado School of Medicine, sebagaimana disitat Time.
 
Migrain dibagi menjadi tiga jenis.
 
1. Migrain tanpa aura
 
Tanda-tanda yang mengawali migrain disebut aura.
Migrain tanpa aura adalah migrain yang paling umum, dan dialami sekitar 75 persen pengidap penyakit ini.
 
2. Migrain dengan aura
 
Tanda-tanda yang dirasakan sebelum terjadi migrain ini umumnya berupa masalah penglihatan (kilatan cahaya pada mata), kekakuan pada leher, pundak, dan anggota lain tubuh. Migrain dengan aura juga dikenal sebagai migrain klasik. Jenis ini dialami sekitar 20 persen pengidap migrain.
 
3. Migrain tanpa sakit kepala
 
Pada kasus ini, penderita mengalami gejala migrain seperti dijabarkan di atas, tetapi tak kunjung mengalami sakit kepala.
 
Hingga saat ini, belum ditemukan obat untuk menyembuhkan migrain. Obat-obatan umumnya hanya membantu meredakan gejala.
 
Selain mengonsumsi obat pereda gejala migrain, penderita disarankan berbaring dalam kamar gelap, serta menghindari suasana bising.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(DEV)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif