Jakarta: Masjid Nursiah Daud Paloh menggelar pelatihan jurnalis milenial untuk mengisi bulan Ramadan. Dalam acara ngabuburit ini, peserta bakal diberi materi untuk menjadi jurnalis di era digital.
Acara ini diikuti sekitar 20 perserta dari beragam latar belakang. Siswa SMK Multimedia Mandiri, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, serta Universitas Al Azhar Indonesia tampak hadir di lokasi, Masjid Nursiah Daud Paloh, Kedoya Selatan, Jakarta Barat, Kamis, 23 Mei 2019.
Ketua Masjid Nursiah Daud Paloh Ade Alawi menyebut acara ini digelar untuk mengantisipasi perubahan zaman. Kegiatan ini menjadi sumbangsih Media Indonesia dan Metro TV untuk mencerahkan generasi muda agar memegang prinsip disiplin verifikasi.
"Verifikasi wajib kita pegang. Alquran sudah ajarkan dari dulu," kata Ade.
Ade mengutip Surah Al-Hujurat ayat 6 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk teliti bila menerima kabar dari orang fasik. Allah SWT melarang hambanya berjalan mengikut desas-desus.
Acara ini diisi oleh jurnalis Media Indonesia Bintang Krisanti, jurnalis senior Metro TV Fifi Aleyda Yahya, dan Pemimpin Redaksi Medcom.id Budiyanto. Mereka membagikan ilmu bagaimana menjadi pewarta yang andal.
Bintang menyebut berita memiliki berapa-beberapa bentuk, mulai dari teks, foto, hingga video. Dalam berita teks, ada dua jenis berita, yaitu straight/hard news dan feature.
Dalam membuat berita, dia mengingatkan penulis harus memerhatikan nilai berita serta unsur-unsurnya. Tiap tulisan harus memenuhi unsur 5W + 1H, yakni what (apa), who (siapa), when (kapan), where (di mana), why (kenapa), dan how (bagaimana).
Sementara itu, Fifi mengingatkan gaya komunikasi harus diperhatikan dalam menyiarkan berita. Seorang jurnalis, khususnya televisi, harus mampu berbicara di depan kamera seakan dia sedang mengobrol dengan sahabatnya.
Head of Corporate Communication Metro TV itu juga menyarankan jurnalis mengabarkan berita dengan ekspresif. Namun, ekspresi harus disesuaikan dengan berita yang disampaikan. "Ada penelitian menyebut dalam menyampaikan pesan, yang berpengaruh itu bahasa tubuh."
Menurut dia, bahasa tubuh berperan besar dalam menarik perhatian audiens, sedangkan intonasi hanya 33 persen, dan kata-kata 7 persen. Hal ini pun harus diperhatikan untuk mempertahankan perhatian audiens.
Di sisi lain, Budiyanto membagikan ilmunya untuk meramu sebuah video yang dapat menarik perhatian penonton. Dia menekankan pembuatan video harus memperhatian beberapa kaidah yang nantinya membedakan video itu hasil profesional atau amatir.
Baca: Semarak Ramadan di Metro TV
"Ambil gambar clear, jelas. Jangan tidak fokus," ungkap dia.
Kamerawan juga harus memperhatikan eksposur gambar dengan menggunakan lampu demi mendapatkan pencahayaan yang baik. "Walaupun shooting siang, lighting dibutuhkan. Kalau mengandalkan matahari terus mendung bagaimana? Karena itu butuh lighting," jelas dia.
Selain itu, demi gambar yang baik, tripod juga perlu digunakan. Pasalnya, juga mengandalkan kekuatan tangan, gambar yang diambil bakal mudah goyang karena kelelahan.
Dia menjelaskan shot size dan sudut yang diambil juga harus bermacam-macam. Hal ini agar hasil gambar akhir bisa bervariasi sehingga video tak monoton.
Jakarta: Masjid Nursiah Daud Paloh menggelar pelatihan jurnalis milenial untuk mengisi bulan Ramadan. Dalam acara ngabuburit ini, peserta bakal diberi materi untuk menjadi jurnalis di era digital.
Acara ini diikuti sekitar 20 perserta dari beragam latar belakang. Siswa SMK Multimedia Mandiri, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, serta Universitas Al Azhar Indonesia tampak hadir di lokasi, Masjid Nursiah Daud Paloh, Kedoya Selatan, Jakarta Barat, Kamis, 23 Mei 2019.
Ketua Masjid Nursiah Daud Paloh Ade Alawi menyebut acara ini digelar untuk mengantisipasi perubahan zaman. Kegiatan ini menjadi sumbangsih
Media Indonesia dan
Metro TV untuk mencerahkan generasi muda agar memegang prinsip disiplin verifikasi.
"Verifikasi wajib kita pegang. Alquran sudah ajarkan dari dulu," kata Ade.
Ade mengutip Surah Al-Hujurat ayat 6 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk teliti bila menerima kabar dari orang fasik. Allah SWT melarang hambanya berjalan mengikut desas-desus.
Acara ini diisi oleh jurnalis
Media Indonesia Bintang Krisanti, jurnalis senior
Metro TV Fifi Aleyda Yahya, dan Pemimpin Redaksi
Medcom.id Budiyanto. Mereka membagikan ilmu bagaimana menjadi pewarta yang andal.
Bintang menyebut berita memiliki berapa-beberapa bentuk, mulai dari teks, foto, hingga video. Dalam berita teks, ada dua jenis berita, yaitu
straight/hard news dan
feature.
Dalam membuat berita, dia mengingatkan penulis harus memerhatikan nilai berita serta unsur-unsurnya. Tiap tulisan harus memenuhi unsur 5W + 1H, yakni
what (apa),
who (siapa),
when (kapan),
where (di mana),
why (kenapa), dan
how (bagaimana).
Sementara itu, Fifi mengingatkan gaya komunikasi harus diperhatikan dalam menyiarkan berita. Seorang jurnalis, khususnya televisi, harus mampu berbicara di depan kamera seakan dia sedang mengobrol dengan sahabatnya.
Head of Corporate Communication
Metro TV itu juga menyarankan jurnalis mengabarkan berita dengan ekspresif. Namun, ekspresi harus disesuaikan dengan berita yang disampaikan. "Ada penelitian menyebut dalam menyampaikan pesan, yang berpengaruh itu bahasa tubuh."
Menurut dia, bahasa tubuh berperan besar dalam menarik perhatian audiens, sedangkan intonasi hanya 33 persen, dan kata-kata 7 persen. Hal ini pun harus diperhatikan untuk mempertahankan perhatian audiens.
Di sisi lain, Budiyanto membagikan ilmunya untuk meramu sebuah video yang dapat menarik perhatian penonton. Dia menekankan pembuatan video harus memperhatian beberapa kaidah yang nantinya membedakan video itu hasil profesional atau amatir.
Baca: Semarak Ramadan di Metro TV
"Ambil gambar
clear, jelas. Jangan tidak fokus," ungkap dia.
Kamerawan juga harus memperhatikan eksposur gambar dengan menggunakan lampu demi mendapatkan pencahayaan yang baik. "Walaupun
shooting siang,
lighting dibutuhkan. Kalau mengandalkan matahari terus mendung bagaimana? Karena itu butuh
lighting," jelas dia.
Selain itu, demi gambar yang baik, tripod juga perlu digunakan. Pasalnya, juga mengandalkan kekuatan tangan, gambar yang diambil bakal mudah goyang karena kelelahan.
Dia menjelaskan
shot size dan sudut yang diambil juga harus bermacam-macam. Hal ini agar hasil gambar akhir bisa bervariasi sehingga video tak monoton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(OGI)