Jepara: Dampak pandemi covid-19 dirasakan perajin keranjang parsel. Jelang lebaran seperti saat ini pesanan keranjang parsel turun hingga 80 persen. Perajin anyaman keranjang parsel warga Kecamatan Welahan, Tohari, mengatakan penurunan pesanan keranjang parsel terjadi sejak dua bulan sebelum lebaran.
"Sebelum puasa sudah mulai sepi. Biasanya sebelum puasa ramai pesanan karena banyak yang menggelar hajatan. Ini karena ada koronatidak boleh ada hajatan jadinya sepi," kata Tohari di Jepara, Jumat, 8 Mei 2020.
Baca: Warga Minta Pemkot Surabaya Lebih Tegas Terapkan Aturan PSBB
Menurutnya sejumlah wilayah yang jadi sasaran penjualan saat ini tidak lagi menerima kiriman keranjang parsel. Itu seperti wilayah Jakarta, Solo, dan kota-kota besar lainnya.
Tahun lalu sejak tiga bulan sebelum lebaran, Tohari mampu menjual 15 ribu lebih anyaman keranjang parsel. Pesanan tersebut dia kerjakan bersama 20 perajin anyaman lainnya. Namun pada masa pendemi ini sejak Maret 2020 hanya mampu menjual sekitar 6.000 keranjang parsel.
"Jadi tahun benar-benar merosot. Tahun lalu 15 ribu itu kurang bahkan kami sampai kewalahan, ini 6.000 saja tidak habis masih ada sisa banyak di rumah," jelas Tohari.
Senada disampaikan perajin anyaman keranjang parsel lainnya, Setiawan, mengatakan penghasilannya menurun. Sebab, produksi keranjang parsel menurun.
"Kalau saya kerjanya borongan. Kalau bisa membuat banyak ya, dapat uang banyak. Tapi ini pesanan kan tidak banyak," kata Setiawan.
Jepara: Dampak pandemi covid-19 dirasakan perajin keranjang parsel. Jelang lebaran seperti saat ini pesanan keranjang parsel turun hingga 80 persen. Perajin anyaman keranjang parsel warga Kecamatan Welahan, Tohari, mengatakan penurunan pesanan keranjang parsel terjadi sejak dua bulan sebelum lebaran.
"Sebelum puasa sudah mulai sepi. Biasanya sebelum puasa ramai pesanan karena banyak yang menggelar hajatan. Ini karena ada koronatidak boleh ada hajatan jadinya sepi," kata Tohari di Jepara, Jumat, 8 Mei 2020.
Baca:
Warga Minta Pemkot Surabaya Lebih Tegas Terapkan Aturan PSBB
Menurutnya sejumlah wilayah yang jadi sasaran penjualan saat ini tidak lagi menerima kiriman keranjang parsel. Itu seperti wilayah Jakarta, Solo, dan kota-kota besar lainnya.
Tahun lalu sejak tiga bulan sebelum lebaran, Tohari mampu menjual 15 ribu lebih anyaman keranjang parsel. Pesanan tersebut dia kerjakan bersama 20 perajin anyaman lainnya. Namun pada masa pendemi ini sejak Maret 2020 hanya mampu menjual sekitar 6.000 keranjang parsel.
"Jadi tahun benar-benar merosot. Tahun lalu 15 ribu itu kurang bahkan kami sampai kewalahan, ini 6.000 saja tidak habis masih ada sisa banyak di rumah," jelas Tohari.
Senada disampaikan perajin anyaman keranjang parsel lainnya, Setiawan, mengatakan penghasilannya menurun. Sebab, produksi keranjang parsel menurun.
"Kalau saya kerjanya borongan. Kalau bisa membuat banyak ya, dapat uang banyak. Tapi ini pesanan kan tidak banyak," kata Setiawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEN)