Ilustrasi. (Foto: Metro TV)
Ilustrasi. (Foto: Metro TV)

Siasat Menghindari Pengembang Properti Nakal

Properti properti perumahan
13 Desember 2018 14:18
Jakarta: Ada banyak modus penipuan yang bisa dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk mendapatkan keuntungan. Salah satunya adalah penawaran investasi dalam bentuk properti bersubsidi.

Kasus di Bogor, Jawa Barat, misalnya, pengembang PT Cakrawala Karya Kinakas menipu ratusan calon konsumen dengan modus rumah bersubsidi. Proyek perumahan Bumi Berlian Asri di Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, itu menawarkan uang muka Rp17 juta sampai Rp30 juta namun hingga satu tahun kemudian tidak ada kepastian akad dari pengembang. 

Pengamat Properti Ignatius Untung mengungkap salah satu cara paling mudah menghindari permainan nakal pengembang properti adalah dengan melihat apakah perusahaan properti menjalin kerja sama dengan bank sebagai pihak ketiga atau tidak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Kalau kredit pemilikan rumah (KPR) kan jaminannya sertifikat rumah, bank tidak mau kalau sertifikatnya bermasalah jadi dia sudah melakukan penilaian segala macam untuk bisa lolos. Artinya risiko dibagi dua antara debitur dan bank," ujarnya dalam Metro Siang, Kamis, 13 Desember 2018. Ignatius meminta calon konsumen teliti melihat apakah bank sebagai pihak ketiga yang dilibatkan termasuk dalam bank yang bonafide atau tidak. Sebab, tidak sedikit pengembang yang asal menunjuk bank yang tak terpercaya sebagai mitra.

"Hindari menggunakan bank yang kepemilikannya sama dengan developer. Memang tidak semuanya akan kongkalikong, tapi kalau pun mau kongkalikong tentu lebih mudah karena masih 'saudara' sendiri," kata dia. 

Di sisi lain, kata Ignatius, ada juga pengembang yang memang tidak berniat menipu namun tidak bisa melanjutkan proyek properti bersubsidi. Hal ini bisa jadi karena salah hitung ketika pasar tidak terlalu bagus sehingga uang konsumen yang telah disetorkan habis untuk pemasaran sehingga pembangunan mangkrak.

Gambarannya, kata dia, membangun apartemen minimal satu tower memerlukan biaya paling kecil Rp500 miliar. Sering kali pengembang tidak memiliki dana sebesar itu dan nekat melakukan pembangunan dengan modal Rp100 miliar. 

Agar dapat melanjutkan pembangunan, pengembang membuat bangunan contoh agar orang mau memasukkan yang muka dengan harapan dapat membangun apartemen seperti rencana awal. Ketika pergerakan pasar terhambat sehingga pengembang tak mampu mengumpulkan dana sampai Rp500 miliar akhirnya proyek apartemen mangkrak.

"Jadi targetnya memang bukan mau menipu. Modal hanya Rp100 miliar habis untuk marketing dan rumah contoh harapannya orang mau masuk tapi akhirnya tidak," pungkasnya.




(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi