Beberapa mitos tentang rumah di Indonesia. Foto: Freepik
Beberapa mitos tentang rumah di Indonesia. Foto: Freepik

Percaya atau Tidak? Ini Mitos Rumah yang Masih Populer

Rizkie Fauzian • 25 Februari 2026 17:04
Ringkasnya gini..
  • Dari rumah tusuk sate hingga posisi pintu depan, sejumlah mitos tentang hunian masih dipercaya masyarakat Indonesia.
  • Tak hanya soal desain, banyak orang mempertimbangkan mitos sebelum membeli atau membangun rumah.
  • Meski belum tentu terbukti secara ilmiah, mitos rumah tetap menjadi bagian dari budaya dan tradisi turun-temurun.
Jakarta: Rumah bukan sekadar tempat tinggal bagi masyarakat Indonesia. Di balik dinding dan atapnya, sering kali terselip berbagai kepercayaan turun-temurun yang dipercaya dapat memengaruhi rezeki, kesehatan, hingga keharmonisan keluarga.
 
Meski zaman terus berkembang dan desain rumah makin modern, sejumlah mitos tentang hunian tetap hidup di tengah masyarakat. Sebagian orang menganggapnya sebagai warisan budaya, sementara yang lain melihatnya sebagai sugesti semata.
 
Berikut beberapa mitos tentang rumah di Indonesia yang masih dipercaya hingga kini yang dirangkum dari beberapa sumber.

Beberapa mitos tentang rumah di Indonesia

Percaya atau Tidak? Ini Mitos Rumah yang Masih Populer
Beberapa mitos tentang rumah di Indonesia. Foto: Freepik

1. Pintu rumah tidak boleh berhadapan langsung

Salah satu mitos yang cukup populer adalah posisi pintu depan dan pintu belakang tidak boleh segaris lurus. Konon, susunan seperti ini membuat rezeki “masuk lalu keluar lagi” tanpa sempat menetap.

Dalam praktiknya, kepercayaan ini juga kerap dikaitkan dengan prinsip feng shui yang menekankan aliran energi di dalam rumah.

2. Rumah tusuk sate bawa sial

Rumah yang berada tepat di ujung jalan atau “tusuk sate” sering dianggap kurang baik. Banyak orang percaya posisi ini membawa energi negatif karena menjadi titik langsung dari arus kendaraan atau jalan lurus yang mengarah ke rumah.
 
Namun secara logis, posisi ini juga memang memiliki risiko lebih tinggi terhadap kebisingan dan keselamatan lalu lintas.

3. Menanam pohon tertentu di depan rumah

Sebagian masyarakat percaya ada jenis pohon yang tidak baik ditanam di depan rumah, seperti pohon besar yang terlalu rimbun. Konon, pohon seperti itu bisa menghalangi rezeki atau membawa suasana suram.
 
Di sisi lain, secara praktis, pohon besar memang dapat menghalangi cahaya matahari dan berpotensi merusak fondasi jika akarnya terlalu kuat.

4. Tidak boleh membangun rumah di bulan tertentu

Di beberapa daerah, masyarakat menghindari memulai pembangunan rumah pada bulan tertentu dalam kalender Jawa atau bulan Muharram dalam kalender Hijriah karena dianggap kurang baik. Tradisi ini biasanya berkaitan dengan perhitungan hari baik menurut budaya setempat.

5. Tangga tidak boleh berjumlah genap

Ada pula mitos yang menyebut jumlah anak tangga sebaiknya ganjil. Angka ganjil dianggap membawa keberuntungan, sedangkan genap dianggap kurang baik.
 
Kepercayaan ini sering ditemui dalam pembangunan rumah tradisional maupun modern yang masih mengikuti hitungan tertentu.

6. Cermin menghadap pintu utama

Sebagian orang percaya cermin yang langsung menghadap pintu utama dapat memantulkan rezeki keluar rumah. Karena itu, penempatannya perlu diperhatikan agar tidak segaris dengan pintu masuk.

Antara kepercayaan dan pertimbangan logis

Mitos-mitos tersebut berkembang dari perpaduan budaya, tradisi lokal, hingga pengaruh kepercayaan tertentu seperti feng shui. Meski tidak memiliki dasar ilmiah yang pasti, sebagian masyarakat tetap menjadikannya pertimbangan sebelum membeli atau membangun rumah.
 
Pada akhirnya, keputusan kembali pada masing-masing individu. Selain mempertimbangkan faktor budaya dan kenyamanan batin, aspek keamanan, pencahayaan, ventilasi, serta kualitas konstruksi tetap menjadi hal utama dalam menentukan hunian yang ideal.
 
Rumah yang nyaman bukan hanya soal mitos atau hitungan hari baik, tetapi tentang bagaimana ruang tersebut mampu menghadirkan rasa aman, sehat, dan harmonis bagi penghuninya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA