Tingkat kehadiran kantor pekerja Indonesia tertinggi di dunia. Foto: Freepik
Tingkat kehadiran kantor pekerja Indonesia tertinggi di dunia. Foto: Freepik

Indonesia Pimpin Tren Kembali ke Kantor, Gedung Premium Diburu

Rizkie Fauzian • 10 Maret 2026 15:15
Ringkasnya gini..
  • Survei JLL menunjukkan 87 persen karyawan korporasi di Indonesia bekerja di bawah mandat kembali ke kantor atau skema hybrid.
  • Tingkat kehadiran kerja fisik yang tinggi mendorong pemulihan permintaan ruang kantor premium di Jakarta.
  • Terbatasnya pasokan gedung baru hingga 2028 diperkirakan membuat ruang kantor Grade A semakin diminati.
Jakarta: Indonesia tercatat menjadi salah satu negara dengan tingkat kebijakan kembali ke kantor atau return-to-office (RTO) tertinggi di dunia. Tren ini diperkirakan mendorong peningkatan permintaan ruang perkantoran berkualitas tinggi, khususnya di Jakarta.
 
Temuan tersebut terungkap dalam survei Workforce Preference Barometer yang dirilis oleh JLL Indonesia. Hasil riset menunjukkan sekitar 87 persen karyawan korporasi di Indonesia saat ini bekerja di bawah mandat RTO atau skema kerja hybrid yang terstruktur.
 
Angka tersebut menjadi yang tertinggi secara global dan hampir dua kali lipat dibanding rata-rata kawasan Asia Pasifik.

Tingkat kehadiran kantor tertinggi di dunia

Survei tersebut juga mencatat hampir dua pertiga pekerja di Indonesia diwajibkan bekerja penuh dari kantor. Persentase ini jauh lebih tinggi dibandingkan pasar hybrid seperti Australia dan Singapore.

Kondisi tersebut dinilai mendorong pemulihan pasar perkantoran nasional. Permintaan ruang kantor pada kuartal IV 2025 bahkan tercatat sebagai yang terkuat sejak kuartal III-2019.
 
Baca juga: Tren Gedung Hijau Meningkat, Penyewa Kejar Efisiensi

Menurut Kepala Departemen Riset JLL Indonesia, James Taylor, tren ini menunjukkan momentum positif bagi pasar perkantoran.
 
“Indonesia menunjukkan momentum pemulihan yang kuat. Tingginya kebijakan kembali ke kantor mulai mengurangi tingkat kekosongan, terutama di gedung Grade A,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Maret 2026.
 
Ia menambahkan, dengan terbatasnya pembangunan gedung baru hingga 2028, perusahaan yang membutuhkan ruang kantor berkualitas tinggi perlu mengambil keputusan lebih cepat untuk mengamankan lokasi strategis.

Karyawan Indonesia antusias kembali ke kantor

Menariknya, kebijakan kembali ke kantor tidak dipandang sebagai beban oleh sebagian besar pekerja di Indonesia.
 
Survei menunjukkan hampir 90 persen karyawan memiliki sentimen positif terhadap kerja di kantor, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di angka 72 persen.
 
Sekitar tiga perempat responden juga menilai kolaborasi tatap muka membuat pekerjaan menjadi lebih efektif. Bahkan lebih dari separuh pekerja menyatakan preferensi untuk bekerja langsung dari kantor perusahaan.
 
Meski demikian, meningkatnya kehadiran di kantor juga diiringi ekspektasi baru dari karyawan. Sekitar dua pertiga pekerja berharap adanya peningkatan fasilitas kantor sebagai imbal balik atas kehadiran mereka.

Kesiapan AI relatif tinggi

Selain tren kembali ke kantor, survei tersebut juga menyoroti kesiapan tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
 
Sekitar 76 persen pekerja di Indonesia tercatat telah menerima pelatihan penggunaan aplikasi berbasis AI, menjadikannya yang tertinggi di kawasan Asia Pasifik.
 
Namun, riset tersebut juga menemukan adanya kesenjangan kesiapan teknologi antara generasi muda dan pekerja yang lebih senior.

Strategi kantor semakin strategis bagi perusahaan

Kepala Departemen Office Leasing JLL Indonesia, Rosari Chia, mengatakan perubahan ekspektasi tenaga kerja telah mengubah cara perusahaan memandang kantor.
 
“Perusahaan kini melihat kantor bukan lagi sekadar tempat bekerja, tetapi sebagai aset strategis yang berperan langsung dalam produktivitas, inovasi, dan daya saing bisnis,” ujarnya.
 
Ia menambahkan bahwa permintaan ruang kantor berkualitas tinggi terus meningkat karena perusahaan membutuhkan lingkungan kerja yang mendukung kolaborasi, pengalaman karyawan, serta identitas organisasi.
 
Survei Workforce Preference Barometer JLL sendiri melibatkan sekitar 3.100 pekerja di sembilan pasar Asia Pasifik dari berbagai sektor, termasuk jasa keuangan, teknologi, manufaktur, dan institusi publik. Sebanyak 150 responden di antaranya berasal dari perusahaan di Indonesia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA