NEWSTICKER
Omnibus Law diyakini memberi iklim positif bagi industri properti. Foto: Shutterstock
Omnibus Law diyakini memberi iklim positif bagi industri properti. Foto: Shutterstock

Pengaruh Omnibus Law bagi Sektor Properti

Properti perizinan lippo karawaci bisnis properti Omnibus Law Izin Mendirikan Bangunan
Rizkie Fauzian • 27 Februari 2020 12:28
Jakarta: Omnibus Law yang disiapkan pemerintah diprediksi akan mendorong aktivitas ekonomi, salah satunya sektor properti. Bagi sektor properti terdapat empat penyederhanaan izin yang akan membuat bisnis semakin bergairah.
 
IMB misalnya, sebelumnya membutuhkan waktu satu tahun untuk dikeluarkan pemerintah daerah, sekarang menjadi kewenangan pemerintah pusat. Kemudian, sertifikat Laik Fungsi sebelumnya terjadi bottleneck di pemerintah daerah akan diambil alih oleh Pemerintah Pusat.
 
Selanjutnya, Perjanjian Pengikatan Jual Beli, dulu tidak ada kejelasan mengenai persentase perkembangan pembangunan sebelum diperbolehkannya PPJB, sekarang diperjelas dengan syarat 20 persen perkembangan pembangunan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengamat Properti F. Rach Suherman menilai Omnibus Law yang disiapkan pemerintah diprediksi akan mendorong aktivitas ekonomi, termasuk sektor properti. Ada beberapa kotak regulasi yang menjadi tantangan menarik untuk secara teknis berada dalam pasal undang-undang sapujagat ini.
 
Kotak-kotak regulasi dimaksud di antaranya adalah SK lokasi, Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Sertifikat Laik Fungsi (SLF), dan Surat Perjanjian Pengikatan Jual Beli (SPPJB).
 
''Omnibus Law punya niat mulia menyederhanakan regulasi-regulasi. Bagus,'' kata Suherman saat dihubungi di Jakarta, Kamis, 27 Februari 2020.
 
Dirinya menambahkan, 13 Paket Kebijakan yang sebelumnya diluncurkan pemerintahan Jokowi, bagi dunia properti seperti ''miniatur omnibus law'' dan banyak aturan dipangkas. Hanya saja di hilir tidak besar rasa penyederhanaannya. Perda-perda masih membuat developer tidak otomatis menikmati kemudahan regulasi.
 
Ia mewanti-wanti jangan sampai Omnibus Law, setelah menjadi undang-undang menjadi terlalu general. Maka muncul interpretasi yang berbeda pada pemda-pemda sehingga mereka punya alasan membuat aturan teknis yang kental dengan isu-isu-lokal.
 
''Karena itu, pertanyaannya sekarang adalah apakah UU Sapujagat ini mampu menghalau perda-perda yang berpotensi membuat masalah. Contoh, kebijakan KLB pada gedung tinggi, masih banyak daerah tidak punya aturannya. Gagap saat ada pengembang akan bangun apartemen,'' tuturnya.
 
Ketika ditanya soal prospek industri properti nasional di 2020, Suherman memprediksi, sektor ini masih akan mengalami tekanan. Namun tetap punya prospek membaik.
 
Tetapi syaratnya adalah suku bunga KPR rendah, kredit konstruksi tidak seret, dan supply atau demand sama-sama punya trust. Pasalnya, pada 2019 kredit tumbuh melambat dan perbankan perlu membuat inovasi produk.
 
Karena itu, Suherman mengaku berprasangka baik pada Omnibus Law dalam jangka panjang. Akan tetapi dalam jangka pendek-menengah sangat bergantung dengan cara mengelola turunan UU ke dalam regulasi teknisnya.
 
''Karena industri properti tentu akan melakukan penyesuaian-penyesuaian lagi. Dan ini untuk menghindari ketidakpastian baru,'' katanya.
 
Hal ini diyakini menjadi iklim kondusif bagi sektor properti. Banyak perusahaan properti yang merasa diuntungkan dengan Omnibus Law, salah satunya pengembang PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR).
 
Bagi Lippo Karawaci, Omnibus Law akan semakin menguatkan kinerja. Terlebih pada awal tahun ini, perusahaan terus menguatkan posisi keuangannya. Tercatat aset perusahaan mencapai Rp56,8 triliun.
 
CEO Lippo Karawaci John Riady menjelaskan perusahaan akan terus mengoptimalisasi portofolio properti demi meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham. Juga, agar kepemilikan aset perseroan semakin bertambah.
 
"Kami terus bekerja mengelola aset-aset kami secara proaktif untuk meningkatkan valuasi, mengidentifikasi peluang investasi, serta meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham," ucap CEO LPKR John Riady.
 

(KIE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif