Berdasarkan Flash Report April yang dirilis Rumah123, kondisi ini menciptakan kesenjangan valuasi hingga 516 basis poin. Situasi tersebut menempatkan aset properti pada posisi undervalued atau berada di bawah nilai wajarnya.
Head of Research Rumah123 Marisa Jaya, mengatakan secara historis, fase undervalued kerap menjadi indikator awal kenaikan harga.
"Tekanan biaya konstruksi yang telah meningkat hingga 19,97 persen, ditambah kenaikan harga lahan dan operasional pengembang, diperkirakan akan mendorong penyesuaian harga dalam waktu mendatang," jelas dia dalam keterangan tertulis, Rabu, 22 April 2026.
Di sisi lain, suplai rumah sekunder nasional tercatat turun 7,8 persen (YoY). Penurunan ketersediaan unit ini berpotensi menjadi katalis kenaikan harga ketika daya beli masyarakat mulai pulih.
Wilayah Tangerang, khususnya kawasan mandiri seperti BSD City, tetap menjadi pusat aktivitas pasar dengan pangsa pencarian mencapai 14,8 persen. Angka ini melampaui Jakarta Selatan (12,4 persen) dan Jakarta Barat (9,3 persen).
Properti dengan harga di atas Rp3 miliar dinilai memiliki ketahanan kapital paling kuat. Segmen ini dianggap relevan sebagai instrumen lindung nilai di tengah volatilitas pasar keuangan.
Dengan suku bunga acuan Bank Indonesia yang relatif stabil di level 4,75 persen, biaya pembiayaan masih kompetitif. Hal ini membuka peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi aset pada fase harga rendah.
Analis menilai kuartal kedua 2026 menjadi momentum strategis untuk masuk pasar, sebelum siklus penyesuaian harga kembali meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News