Sektor properti kembali menemukan momentum pertumbuhan. Foto: Medcom.id/Syarifah Komalasari
Sektor properti kembali menemukan momentum pertumbuhan. Foto: Medcom.id/Syarifah Komalasari

Pasar Properti 2026 Diprediksi Bangkit, Ini Sinyalnya

Rizkie Fauzian • 12 Februari 2026 14:27
Ringkasnya gini..
  • Pinhome memprediksi sektor properti 2026 memasuki fase pemulihan setelah inventori rumah baru turun 14 persen pada semester II 2025.
  • Pasar rumah sekunder naik 5 persen, sementara minat KPR bergeser ke plafon di bawah Rp600 juta sebagai dampak penyesuaian daya beli.
  • Infrastruktur dan hilirisasi industri di luar Jakarta menjadi motor pertumbuhan baru properti Indonesia pada 2026.
Jakarta: Semester II 2025 menjadi periode penuh dinamika bagi Indonesia. Ketegangan sosial, tekanan ekonomi, hingga faktor lingkungan berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.
 
Kondisi ini turut membentuk lanskap pasar properti yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan Indonesia Residential Market Report Semester II 2025 & Outlook 2026 dari Pinhome, pasar residensial mengalami stagnasi inventori yang cukup signifikan.

Inventori rumah baru turun 14 persen

Rata-rata penambahan inventori rumah baru per bulan tercatat turun hingga 14 persen pada semester II 2025. Penurunan suplai rumah primer ini mencerminkan kehati-hatian pengembang di tengah tekanan biaya konstruksi dan perlambatan permintaan.
 
Di sisi lain, kondisi tersebut menjadi peluang bagi pengembang yang memiliki stok rumah siap huni, terlebih dengan masih berlakunya kebijakan PPN DTP hingga akhir 2027.
 
Sebaliknya, inventori rumah sekunder menunjukkan tren berbeda. Sepanjang semester II 2025, rata-rata pertumbuhan inventori rumah sekunder meningkat 5 persen per bulan, terutama di wilayah penyangga DKI Jakarta seperti Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan yang masing-masing menyumbang 8 persen dari total tambahan listing.

“Tekanan ekonomi sepanjang 2025, mulai dari gelombang PHK hingga kenaikan biaya hidup, mendorong sebagian pemilik properti melepas aset untuk menjaga likuiditas,” ujar CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.
 
Indikasi urgensi penjualan terlihat dari meningkatnya penggunaan label seperti “Butuh Uang (BU)” dan “Jual Cepat” pada sejumlah listing.

Permintaan terkonsentrasi di kawasan industri

Pinhome mencatat adanya pergeseran permintaan properti. Kawasan industri justru menunjukkan pertumbuhan positif. Cikarang mencatat kenaikan permintaan hingga 16 persen pada semester II 2025 dibanding semester sebelumnya.
 
Sebaliknya, kawasan residensial komuter di Bekasi mengalami koreksi. Tambun turun 22 persen, sementara Cibitung turun 9 persen. Tren ini menegaskan bahwa kedekatan dengan pusat aktivitas kerja menjadi faktor utama dalam keputusan membeli hunian.
 
Sejalan dengan data tersebut, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai kebutuhan hunian tetap kuat meski sektor real estat dan konstruksi sempat melambat.
 
“Pemulihan ke depan sangat ditentukan oleh keterjangkauan, kepastian kebijakan, dan kemampuan pembiayaan menjangkau segmen yang membutuhkan,” jelasnya.

Strategi pembiayaan lebih konservatif

Penyesuaian daya beli tercermin dari strategi pembiayaan masyarakat. Minat terhadap KPR dengan tenor lebih panjang meningkat, sementara rata-rata plafon kredit menurun untuk menekan cicilan bulanan.
 
Menariknya, minat terhadap KPR rumah sekunder kini melampaui rumah primer. Strategi ini dipilih untuk menghindari beban ganda cicilan dan sewa pada rumah indent.
 
Skema Take Over dan Top Up bahkan mendominasi hingga 74 persen dari total transaksi pembiayaan, menunjukkan prioritas debitur dalam menjaga arus kas dan memitigasi risiko suku bunga.

Harapan pemulihan di tengah dinamika global

Memasuki 2026, pasar masih dibayangi tantangan global, mulai dari konflik geopolitik hingga volatilitas pasar keuangan. Namun, peluang pemulihan tetap terbuka.
 
Pinhome dan Permata Bank memproyeksikan sektor properti kembali menemukan momentum pertumbuhan, didorong stabilisasi ekonomi dan membaiknya sentimen pasar.
 
Pemulihan regional juga terlihat di Sumatera. Kota Palembang mencatat kenaikan indeks permintaan rumah 24 persen dan Pekanbaru 23 persen pada Desember 2025 dibanding bulan sebelumnya.
 
Faktor infrastruktur turut menjadi katalis. Operasional Kereta Cepat Whoosh mendorong lonjakan minat di Bandung Timur. Pencarian properti di Cileunyi naik 18 persen dan Rancaekek melonjak 31 persen pada semester II 2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
 
Progres pembangunan Tol Getaci (Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap) juga memperkuat daya tarik kawasan tersebut.
 
Di luar Jawa, percepatan hilirisasi nikel mendorong lonjakan minat properti di Maluku Utara (+11 persen) dan Sulawesi Tengah (+8 persen), terutama di wilayah Morowali, Halmahera Tengah, dan Pulau Obi.
 
“Tantangan terbesar tetap pada keterjangkauan dan distribusi hunian. Kolaborasi kebijakan pembiayaan, pembangunan, dan infrastruktur diperlukan agar program perumahan benar-benar meningkatkan akses masyarakat,” jelas Josua.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA