Flash Report Februari 2026 by Rumah123 mencatat terjadinya kontraksi suplai rumah sebesar 9,2 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), sementara harga rumah secara nasional masih tumbuh stabil di level 0,7 persen YoY.
Data tersebut mengindikasikan bahwa pasar properti tidak melemah akibat ketiadaan permintaan, melainkan tengah mengalami penyesuaian terhadap kondisi makroekonomi. Properti fisik dinilai kembali berfungsi sebagai jangkar kestabilan aset di tengah meningkatnya risiko inflasi dan volatilitas pasar keuangan.
Kondisi ini kontras dengan laju inflasi tahunan (IHK) Januari 2026 yang tercatat mencapai 3,55 persen. Dalam situasi normal, inflasi berpotensi menekan daya beli. Namun, respons pasar properti sekunder justru menunjukkan penurunan suplai bulanan sebesar 1,7 persen dan kontraksi tahunan yang signifikan.
Penurunan volume listing tersebut mencerminkan strategi pemilik aset yang memilih menahan properti ketimbang melepasnya ke pasar. Di tengah ketidakpastian nilai tukar rupiah dan pergerakan pasar saham, properti dipandang sebagai store of value yang relatif aman untuk menjaga nilai kekayaan.
Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menilai fenomena ini sebagai mekanisme pertahanan aset yang wajar.
“Data kami mempertegas posisi properti sebagai safe haven. Ketika inflasi bergerak di atas pertumbuhan harga rata-rata, respons pasar justru rasional dengan menahan suplai. Ini bukan tanda kelesuan, melainkan bukti kuatnya holding power pemilik aset dalam menjaga nilai kekayaannya,” ujar Marisa dalam keterangan tertulis, Senin, 9 Februari 2026.
Harga rumah kecil naik signifikan
Sementara itu, kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen mulai memengaruhi segmen pasar yang sensitif terhadap likuiditas. Laporan mencatat lonjakan signifikan pada harga hunian berukuran kecil atau compact (≤60 meter persegi) di Jakarta Pusat yang melonjak hingga 36,4 persen YoY.Kenaikan ini mencerminkan pergeseran preferensi pasar ke unit dengan harga nominal lebih terjangkau namun memiliki nilai lokasi strategis, seiring kebutuhan efisiensi modal dan mobilitas perkotaan.
“Permintaan kini terkonsentrasi pada unit-unit compact yang dinilai lebih rasional secara finansial. Lonjakan harga di Jakarta Pusat menunjukkan likuiditas pasar tidak hilang, melainkan berpindah ke segmen paling efisien,” jelas Marisa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News