Mortar busa memiliki keunggulan antara lain dapat menghemat dana. Foto: Kementerian PUPR
Mortar busa memiliki keunggulan antara lain dapat menghemat dana. Foto: Kementerian PUPR

Solusi Konstruksi dengan Teknologi Mortar Busa

Properti teknologi infrastruktur konstruksi revolusi industri
Rizkie Fauzian • 24 Februari 2020 18:37
Jakarta: Diperkirakan sekitar 20 juta hektare atau sekitar 10 persen dari luas total daratan Indonesia adalah tanah lunak. Penyebaran tanah lunak umumnya dijumpai pada daerah dataran pantai.
 
Antara lain di sepanjang pantai utara Pulau Jawa, pantai timur Pulau Sumatra, pantai selatan Pulau Kalimantan, pantai selatan Pulau Sulawesi, hingga pantai selatan Pulau Papua.
 
Kondisi ini membuat daya dukung tanah rendah sehingga tidak dapat menyokong struktur bangunan di atasnya dengan baik, seperti membuat jalan amblas dan keretakan gedung.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) mengembangkan Teknologi Mortar Busa.
 
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mendorong para peneliti untuk menghasilkan karya yang memberikan dampak positif bagi penyediaan infrastruktur bidang pekerjaan umum dan perumahan rakyat dengan tetap memperhatikan kriteria murah, mudah, cepat, dan berkelanjutan.
 
"Hasil-hasil Litbang sangat penting untuk mempercepat pencapaian target pembangunan infrastruktur melalui inovasi-inovasi yang lebih murah, lebih cepat dan lebih baik," kata Menteri Basuki beberapa saat lalu.
 
Mortar busa merupakan optimalisasi penggunaan busa (foam) dengan mortar (pasir, semen, dan air) berkekuatan tinggi sehingga ideal menjadi dasar atau perkerasan jalan pada tanah lunak yang dikembangkan oleh Pusat Jalan dan Jembatan (Pusjatan).
 
Mortar busa memiliki berat yang ringan di mana massa jenis maksimum 0,8 ton per m3 untuk lapis base dengan UCS minimum 2.000 kilogram per cm2, serta massa jenis maksimum 0,6 ton per m3 untuk lapis sub-base dengan UCS minimum 800 kilogram per cm2. Seperti mortar beton, mortar busa juga memiliki sifat memadat sendiri.
 
Keunggulan dari teknologi ini di antaranya adalah dapat menghemat dana hingga 60-70 persen dan dapat menghemat waktu pengerjaan hingga 50 persen jika dibandingkan dengan konstruksi konvensional. Selain itu juga ramah lingkungan karena menggunakan lebih sedikit material konstruksi terutama bahan alam.
 
Salah satu pemanfaatan teknologi mortar busa ini adalah Jalan Layang Antapani di Bandung, Jawa Barat. Jalan Layang Antapani merupakan pilot project teknologi Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMP) yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia.
 
CMP adalah pengembangan teknologi mortar busa yang dikombinasikan dengan struktur baja bergelombang. Pekerjaan lainnya antara lain Flyover Klonengan di Tegal dan Flyover Manahan di Solo.
 
Teknologi mortar busa ini digunakan sebagai pengganti timbunan tanah, atau sub base yang biasanya dipakai tanpa memerlukan lahan yang lebar karena dapat dibangun tegak dan tidak memerlukan dinding penahan serta tidak perlu alat pemadat karena dapat memadat dengan sendirinya.
 
Penggunaan baja bergelombang, selain mempercepat waktu pelaksanaan pembangunan jalan layang juga lebih efisien secara pembiayaan.

 
(KIE)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif