Perubahan siklus pasar yang ditandai dengan menurunnya pembeli spekulatif. Foto: Medcom.id/Syarifah Komalasari
Perubahan siklus pasar yang ditandai dengan menurunnya pembeli spekulatif. Foto: Medcom.id/Syarifah Komalasari

Properti Jakarta Mulai Bangkit, Ini Pendorong Utamanya

Rizkie Fauzian • 06 Mei 2026 14:59
Ringkasnya gini..
  • Pasar properti Jakarta mulai memasuki fase pertumbuhan berkelanjutan pada kuartal I 2026.
  • Investasi hampir Rp500 triliun dan ekonomi stabil di kisaran 5 persen menjadi pendorong utama.
  • Penurunan pembeli spekulatif membuat pasar lebih sehat dan risiko lebih terukur.
Jakarta: Pasar properti Jakarta mulai memasuki fase pertumbuhan berkelanjutan pada kuartal I-2026. Kondisi ini didorong oleh pasokan yang lebih terkendali serta pemulihan ekonomi yang stabil.
 
Managing Director Angela Wibawa CBRE Indonesia menjelaskan, pasar properti kini bergerak dari fase pemulihan pascapandemi menuju kondisi fundamental yang lebih sehat.
 
“Kuartal pertama menandai kelanjutan pemulihan yang stabil. Kita melihat adanya transisi dari pemulihan siklikal menuju pertumbuhan berkelanjutan di berbagai sektor, termasuk perkantoran, logistik, residensial, hingga capital markets,” ujar Angela dalam media briefing CBRE, Rabu, 6 Mei 2026.

Investasi Rp500 triliun dukung pertumbuhan

Senior Director Research Anton Sitorus menambahkan, posisi ekonomi Indonesia saat ini tergolong kompetitif baik di tingkat regional maupun global.
 
Stabilitas ekonomi nasional yang berada di kisaran 5 persen turut menopang ketahanan sektor properti. Data International Monetary Fund (IMF) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di bawah India, namun melampaui China dan Uni Emirat Arab.

Pada kuartal I 2026, realisasi investasi tercatat hampir mencapai Rp500 triliun, atau tumbuh sekitar 6 hingga 9 persen. Kondisi ini memperkuat fondasi pasar properti nasional.
 
Anton juga menyoroti perubahan siklus pasar yang ditandai dengan menurunnya pembeli spekulatif. Hal ini membuat pergerakan pasar menjadi lebih stabil dan sehat.
 
“Spekulasi mulai mereda, dinamika tidak setinggi sebelumnya. Namun pasar bergerak tumbuh secara bertahap dan lebih solid,” jelas dia.
 
Menurutnya, penurunan pembeli spekulatif menjadi sinyal positif karena dapat meminimalkan risiko terbentuknya gelembung properti. Penjualan saat ini lebih didominasi oleh pengguna akhir, sehingga pengembang lebih mudah memetakan risiko dan memprediksi pasar ke depan.
 
Meski demikian, Anton menegaskan bahwa risiko investasi tetap ada, namun kini lebih terukur dan dapat dikelola dengan lebih baik.
 
“Risiko tetap ada, tetapi sekarang lebih terlihat dan lebih bisa diatur, baik bagi konsumen maupun pengembang,” ujar dia. (Syarifah Komalasari)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan