Lahan Relokasi Korban Gempa Palu Mulai Disiapkan
Sejumlah anak korban gempa Palu bermain di pengungsian Balaroa (7/11/2018). Keberadaan taman bermain ini membantu mengurangi trauma anak-anak pasca bencana alam. Antara Foto/Mohamad Hamzah
Jakarta: Kawasan terdampak likuefaksi akibat gempa Sulawesi Tengah dipastikan tidak layak lagi untuk ditinggali. Warganya akan direlokasi ke tiga tempat tak jauh dari sana yang saat ini mulai pemerintah siapkan.

"Bukan hanya korban likuefaksi, yang terkena tsunami di pinggir pantai mungkin juga akan termasuk yang direlokasi," kata Dirjen Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang Abdul Kamarzuki di Kantor Kementerian ATR/BPN, Jakarta, Kamis (8/11/2018).


Badan Pembangunan dan Perencanaan Nasional (Bappenas) sudah memberi instruksi kepada pemerinta daerah menetapkan lokasi baru. Kementerian ATR/BPN bersama Bappenas kini tengah menghitung luasan tanah yang dikonversi dari lahan yang terdampak bencana.


Kapal nelayan rusak dan terdampar akibat tersapu tsunami di Banawa, Donggala, Sulteng (5/11/2018). Pasca gempa dan tsunami, sebagian nelayan tidak dapat melaut karena kapal dan peralatan kerjanya rusak atau hilang. Antara Foto/Mohamad Hamzah

Lahan yang telah mengalami kerusakan akibat likuifaksi, gempa atau tsunami memiliki nilai tanah nol alias tidak memiliki harga jual. Awal penghitungan dimulai dari berapa jumlah bidang yang terdampak yang sementara ini kurang lebih 380 ha.

"Kita hitung misalnya warga punya lahan 500 meter persegi, kalau direlokasi dapat luas lahan berapa sebab harganya berbeda. Ada tim appraisal yang sedang menghitung," jelas Abdul.

Total luas tanah tiga lokasi lahan yang disediakan memiliki luas sekitar 900 ha-1000 ha. Abdul memprediksi luasan tanah itu bisa menampung sekitar 600 rumah. "Untuk menampung daerah terdampak itu Insha Allah cukup," pungkasnya.





 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id