Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi pendorong utama perubahan lanskap industri ini. Beban kerja berbasis AI diperkirakan mencakup sekitar 50persendari total kapasitas global pada 2030, naik tajam dibandingkan sekitar 25 persen pada 2025.
Meski pertumbuhan berlangsung agresif, JLL menilai fundamental sektor data center tetap solid dan indikator properti tidak menunjukkan risiko gelembung pasar.
Investasi global diperkirakan tembus USD3 triliun
Lonjakan kapasitas tersebut diproyeksikan membutuhkan total investasi hingga USD 3 triliun dalam lima tahun ke depan. Nilai tersebut mencakup sekitar USD 1,2 triliun peningkatan nilai aset properti serta USD 870 miliar pembiayaan utang baru, menandai dimulainya fase supercycle investasi infrastruktur global.“Kami tengah menyaksikan transformasi paling signifikan pada infrastruktur data center sejak migrasi cloud pertama kali terjadi,” ujar Global Division President, Data Centers and Critical Environments JLL Matt Landek dalam keterangan tertulis, Kamis, 15 Januari 2025.
Ia menambahkan, hyperscaler global mengalokasikan hingga USD 1 triliun belanja data center pada periode 2024–2026, di tengah tantangan keterbatasan pasokan dan lamanya proses koneksi listrik yang bisa mencapai empat tahun.
Prospek Indonesia kian menjanjikan
Tren global tersebut tercermin pada pasar Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperkirakan industri data center nasional tumbuh sekitar 14persenper tahun hingga 2028, seiring peningkatan pesat jumlah pengguna internet.Sementara itu, Bank Dunia memproyeksikan permintaan data center di Indonesia tumbuh hingga 16,8persenper tahun, menegaskan kuatnya fundamental jangka panjang sektor ini.
“Investor properti di Indonesia kini semakin aktif mendiversifikasi portofolio ke sektor-sektor alternatif yang menawarkan stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang, termasuk data center, logistik, kesehatan, dan pendidikan,” ujar Country Head JLL Indonesia Farazia Basarah,
AI mendorong transformasi infrastruktur
JLL memprediksi akan terjadi titik krusial pada 2027, ketika kebutuhan AI inference melampaui AI training sebagai kontributor utama permintaan kapasitas.“Kami melihat paradigma baru infrastruktur, di mana fasilitas pelatihan AI membutuhkan kepadatan daya hingga 10 kali lebih besar dan mampu menghasilkan tarif sewa sekitar 60persenlebih tinggi dibandingkan data center konvensional,” ujar Andrew Batson, Global Head of Data Center Research JLL.
AI juga kini menjadi isu strategis nasional di berbagai negara, mendorong investasi infrastruktur yang didukung pemerintah dengan peluang belanja modal hingga USD 8 miliar pada 2030.
Pola pertumbuhan regional
Kawasan Amerika diperkirakan tetap menjadi pasar data center terbesar dunia dengan pangsa sekitar 50persenkapasitas global, sekaligus mencatat laju pertumbuhan tercepat hingga 2030.Sementara itu Asia Pasifik diproyeksikan tumbuh dari 32 GW menjadi 57 GW. Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) akan menambah sekitar 13 GW kapasitas baru
Di Asia Tenggara, Indonesia semakin menonjol sebagai pasar pertumbuhan utama. Kawasan CBD Jakarta tetap relevan karena kedekatan dengan internet exchange point, sementara Cikarang dan Karawang menarik minat hyperscaler berkat kawasan industri dan akses listrik mandiri. Batam juga mulai dilirik sebagai calon hub data center regional.
JLL mencatat tingkat okupansi global mencapai 97 persen, dengan sekitar 77persenproyek yang sedang dibangun telah memiliki komitmen penyewa. Tarif sewa global diperkirakan tumbuh rata-rata 5persenper tahun hingga 2030, dengan kawasan Amerika memimpin pertumbuhan sekitar 7persenper tahun.
Meski demikian, lebih dari separuh proyek data center global pada 2025 mengalami keterlambatan konstruksi, terutama akibat waktu tunggu peralatan yang kini rata-rata mencapai 33 minggu, naik sekitar 50persendibandingkan sebelum 2020.
Tantangan energi dan keberlanjutan
Ketersediaan energi masih menjadi tantangan utama, dengan waktu tunggu koneksi listrik di pasar utama kini melebihi empat tahun. Sejumlah operator bahkan mulai membangun pembangkit energi sendiri, dengan pendekatan bring your own power mulai diterapkan di beberapa pasar.Ke depan, kombinasi energi terbarukan, penyimpanan energi baterai (BESS), dan teknologi modular diperkirakan menjadi strategi utama pengembangan data center global.
“Operator data center akan menghadapi pengawasan yang semakin ketat terkait strategi pengadaan energi mereka,” ujar Martin Jensen, EMEA Division President, Data Centers JLL.
Di Indonesia, dinamika global ini menegaskan pentingnya perencanaan jangka panjang, terutama terkait ketersediaan listrik, konektivitas, air bersih, dan pengembangan talenta digital.
“Penguatan kesiapan infrastruktur akan menjadi faktor kunci agar Indonesia tetap kompetitif sebagai tujuan investasi data center di kawasan,” ujar Farazia Basarah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News