Kepala Riset Ferry Salanto menyampaikan bahwa rata-rata tingkat hunian pusat perbelanjaan di Jakarta mencapai sekitar 73 persen pada kuartal pertama 2026. Namun, mal premium dan menengah atas masih mampu mencatatkan performa lebih baik karena terus menarik brand internasional serta konsumen dengan daya beli tinggi.
“Mal-mal ini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup, dengan kurasi penyewa yang kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial yang tidak dapat tergantikan oleh platform online,” ujar Ferry dikutip Senin, 1 Juni 2026.
Mal kini fokus pada pengalaman pengunjung
Menurut Colliers, pemilik pusat perbelanjaan kini mulai mengurangi strategi ekspansi agresif dan lebih fokus pada renovasi, peremajaan area, hingga peningkatan pengalaman pengunjung.Konsep semi-outdoor, area komunitas, fasilitas hiburan, hingga ruang interaksi sosial mulai banyak dihadirkan untuk menarik pengunjung datang lebih lama ke pusat perbelanjaan.
Perubahan ini mencerminkan transformasi fungsi mal yang tidak lagi sekadar destinasi belanja, tetapi juga tempat berkumpul, bekerja, hingga menikmati gaya hidup urban.
Sektor F&B dan Sportswear masih skspansif
Colliers mencatat sektor makanan dan minuman masih menjadi kategori paling aktif di pusat perbelanjaan. Konsep restoran dan gerai minuman yang menggabungkan kualitas produk dengan pengalaman sosial dinilai masih diminati masyarakat.Selain itu, tren gaya hidup sehat juga mendorong pertumbuhan tenant pakaian olahraga dan perlengkapan kebugaran di pusat perbelanjaan.
Di sisi lain, peritel fesyen menghadapi tekanan lebih besar dari platform online dan pelaku UMKM lokal. Konsumen, khususnya generasi Z, kini lebih selektif dalam berbelanja dan lebih mengutamakan pengalaman serta value produk.
Kondisi tersebut membuat banyak peritel mulai memilih format toko yang lebih kecil, masa sewa lebih fleksibel, dan lokasi dengan lalu lintas pengunjung tinggi.
Mal premium masih mendominasi
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa mal premium dan menengah atas masih mampu mempertahankan tingkat okupansi sekitar 90 persen. Sementara itu, pusat perbelanjaan kelas bawah menghadapi penyerapan tenant yang lebih lambat dan persaingan yang semakin ketat.Karena itu, kualitas aset, komposisi tenant, hingga pengalaman pengunjung dinilai menjadi faktor utama yang menentukan performa pusat perbelanjaan ke depan.
Colliers menilai pasar ritel kini semakin selektif. Pemilik mal dan peritel yang mampu menghadirkan pengalaman relevan, efisiensi operasional, serta diferensiasi brand yang kuat diperkirakan akan memiliki kinerja lebih unggul di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News