Hong Kong krisis ruang terbuka hijau
Seorang caddy sedang melayani dua golfer di padang Fanling, Hong Kong. Sebelum jadi lapangan golf, Fanling adalah sebuah pemakaman kuno. AFP Photo/Anthony Wallace
Hong Kong: Fanling adalah padang golf terkemuka di Hong Kong. Selain melahirkan banyak golfer handal dan tuan rumah berbagai turnamen, Fanling juga merupakan paru-paru penyedia udara segar bagi warga Hong Kong yang hidup berdesak-desakan.

Kini keberadaan hamparan rumput dan hutan-hutan kecilnya terancam. Sebagaimana dikutip dari AFP, Senin (11/6/2018), Fanling masuk dalam daftar lahan yang akan dialihfungsikan sebagai hunian vertikal baru.

Bukan tanpa alasan Fanling pada saat kelak terpaksa dialihfungsikan. Kebutuhan hunian di Hong Kong amat sangat tinggi. Sedemikian tingginya hingga harga property di sana lebih tinggi dibanding New York dan London.

Kota pelabuhan bekas koloni Inggris tersebut bahkan menjadi kota yang paling tidak terjangkau selama tujuh tahun berturut-turut. Maka ketersediaan hunian layak dan terjangkau adalah prioritas bagi pemerintahan Hong Kong. Meski harus mengorbankan ruang terbuka hijau, salah satunya lapangan golf di Fanling.

Sebelum dijadikan lapangan golf, Fanling sebelumnya adalah sebuah pemakaman tua. Berada di tengah hiruk pikuk perkotaan, lapangan golf seluas 170 hektare tersebut merupakan rumah bagi pohon-pohon berusia ratusan tahun dan habitat beragam satwa.

Rencana alih fungsi ini jelas menjadi kontroversi. Usulan lain adalah penataan yang menyeluruh kebijakan sektor perumahan tanpa mengorbankan area terbuka hijau seluas Fanling.

"Kehilangannya akan sangat berdampak pada kemampuan Hong Kong mengembangkan bakat (bermain golf) dan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar," kata GM Hong Kong Golf Club, Ian Gardner seperti dilansir oleh AFP.



Kesenjangan

Hong Kong merupakan salah satu kota terkaya di wilayah Asia dengan ribuan gedung pencakar langit dan hamparan lapangan golf mewah. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan masih banyak warganya yang belum memiliki hunian layak.

Meroketnya harga lahan ditambah tingginya biaya hidup membuat warga Hong Kong harus rela hidup di tempat tidak layak, seperti kandang hingga peti. Bukan sekedar kiasan, warga tidak mampu tersebut harus hidup di flat dog (serupa unit hotel kapsul, tapi lebih sempit dan kumuh) yang disewakan HKD 2 ribu per bulan.

baca juga: Rumah pipa untuk bujangan Hong Kong

Pilihan lain bagi warga dengan penghasilan minim adalah tinggal di rumah peti yang tarif sewanya Rp 4 juta per bulan. Hunian seluas 3-4 meter persegi ini juga jauh dari kata layak karena dihuni hingga 2 keluarga sekaligus secara bergantian.

Tapi hanya itulah yang tersedia. Di Hong Kong, rata-rata waktu untuk daftar tunggu perumahan umum pemerintah adalah sekitar lima hingga tujuh tahun. Meski banyak yang berharap kondisi ini hanya bersifat sementara, namun terus meroketnya harga property memupus harapan warganya.

AFP Focus/Elaine Yu

 

(LHE)