Senior Director Research CBRE, Anton Sitorus, mengatakan tingginya okupansi mall premium dipengaruhi terbatasnya pasokan baru di kategori tersebut dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, mall kategori upper masih menerima tambahan pasokan baru sehingga tingkat okupansinya lebih fluktuatif dibanding pusat perbelanjaan kelas atas.
“Mall yang high-end itu sangat berjaya saat ini berada di kisaran 95 persen. Memang high-end mall juga tidak banyak dan mereka tidak hanya ramai saat weekend, tetapi weekdays pun traffic-nya tinggi,” ujar Anton dalam Media Briefing di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Konsumen kini cari pengalaman dan gaya hidup
CBRE menilai pertumbuhan sektor retail saat ini dipengaruhi perubahan perilaku konsumen yang semakin mengutamakan pengalaman dan gaya hidup.Hal ini membuat kategori food and beverage (F&B), wellness, serta health and beauty mendominasi permintaan ruang ritel di berbagai pusat perbelanjaan.
Tren tersebut tidak hanya terjadi di mall besar kawasan bisnis, tetapi juga mulai berkembang di area pemukiman melalui konsep gedung mandiri atau standalone.
“Kita melihat brand-brand populer mulai mencari lokasi yang bisa di mall maupun standalone. Karena kebutuhan konsumen membuat brand harus bersaing, salah satunya melalui flagship store,” jelas Anton.
Harga sewa mall premium tertinggi
Secara statistik, total pasokan pusat perbelanjaan di Jakarta saat ini mencapai 3,5 juta meter persegi dengan sisa ruang kosong sekitar 500 ribu meter persegi.Pada kuartal I-2026, total penyerapan ruang ritel tercatat sebesar 16 ribu meter persegi dengan tingkat okupansi keseluruhan stabil di angka 86 persen.
Dari sisi harga, mall high-end masih menjadi yang tertinggi dengan rata-rata harga sewa mencapai Rp870 ribu per meter persegi. Angka ini jauh di atas kategori mall lainnya yang rata-rata masih berada di bawah Rp500 ribu per meter persegi.
Menurut Anton, kualitas permintaan kini menjadi faktor yang lebih penting dibanding volume penjualan. Pasar retail saat ini dinilai lebih sehat karena produk dan ruang usaha banyak diserap oleh end-user, bukan spekulan.
“Sekarang yang lebih penting adalah demand quality, jadi produk itu diserap oleh end-user, bukan lagi spekulan. Itu yang membuat pasar menjadi lebih resilient ke depannya,” jelas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News