Konsep mal dengan area terbuka atau outdoor lifestyle space kini semakin diminati. Foto: Medcom
Konsep mal dengan area terbuka atau outdoor lifestyle space kini semakin diminati. Foto: Medcom

Tren Mal 2026: Outdoor jadi Daya Tarik Baru Pengunjung

Rizkie Fauzian • 26 Februari 2026 21:04
Ringkasnya gini..
  • Knight Frank Indonesia mencatat tren “outdoor is the new indoor” di mal Jakarta, terutama pada segmen premium.
  • Konsep open-air dan ruang komunal diminati milenial dan Gen Z yang mencari pengalaman, bukan sekadar belanja.
  • Ritel premium lebih resilien dengan okupansi 77,9 persen dan pertumbuhan tenant FnB sepanjang 2025.
Jakarta: Transformasi pusat perbelanjaan di Ibu Kota terus bergerak mengikuti perubahan perilaku konsumen. Konsep mal dengan area terbuka atau outdoor lifestyle space kini semakin diminati, terutama di segmen ritel kelas menengah atas.
 
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah, menyebut tren “outdoor is the new indoor” menjadi arah baru pengembangan mal ke depan. Konsep ini menghadirkan ruang terbuka dengan pendekatan biophilic, yakni desain yang memadukan elemen alami seperti ruang hijau, taman, serta area komunal.
 
“Preferensi pengunjung ritel saat ini cenderung menyukai area biophilic atau outdoor yang memiliki unsur hidup seperti green space dan ruang berkumpul,” ujar Syarifah, Kamis, 26 Februari 2026.

Menurutnya, pusat perbelanjaan tidak lagi sekadar tempat bertransaksi. Mal kini bertransformasi menjadi ruang pengalaman (experience-led retail) dengan konsep inovatif, tenant kompetitif, dan desain yang mendorong interaksi sosial.

Generasi muda cari ruang komunal

Tren ini dinilai selaras dengan karakter generasi milenial dan Gen Z yang memiliki kecenderungan berkegiatan secara komunal. Mereka datang ke mal tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk berkumpul, bersantai, atau sekadar mencari suasana baru tanpa harus keluar kota.
 
Area terbuka dengan banyak tanaman dinilai mampu menjadi short escape bagi pekerja urban. Konsep open-air lifestyle pun dianggap lebih relevan di tengah gaya hidup masyarakat perkotaan yang dinamis.
 
Selain menarik secara visual, area outdoor juga disebut lebih efisien dari sisi desain dan perawatan.

Ritel premium lebih resilien

Di sisi kinerja, pasar ritel Jakarta menunjukkan dinamika berbeda antarsegmen. Menurut Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, ritel premium relatif lebih kuat dengan tenant mix berkualitas, desain bangunan modern, dan lokasi strategis.
 
“Konsep yang mampu menghadirkan open-air lifestyle, social space, serta kurasi tenant yang relevan terbukti lebih resilien dalam fase pemulihan pasar,” jelasnya.
 
Data semester II 2025 mencatat total pasokan mal naik 1 persen secara tahunan menjadi 4,37 juta meter persegi, dengan dua mal baru hadir di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Rerata tingkat okupansi berada di kisaran 77,9 persen, naik tipis dibanding awal tahun, sementara harga sewa meningkat sekitar 1,1 persen.
 
Masuknya sejumlah merek FnB internasional seperti Chagee, Sushiro, dan Sancha turut memperkuat sektor makanan dan minuman sebagai motor pertumbuhan ritel.
 
Meski tren outdoor menguat, tidak semua mal akan mengadopsi konsep serupa. Pengembangan tetap disesuaikan dengan target pasar masing-masing. Beberapa pengelola bahkan mulai mempertimbangkan penambahan fasilitas olahraga seperti lapangan padel atau pusat kebugaran, mengikuti gaya hidup aktif masyarakat urban.
 
Di tengah maraknya belanja daring, ruang fisik ritel dinilai tetap relevan sebagai bagian dari ekosistem omnichannel. Pengalaman langsung, interaksi sosial, dan aktivitas yang tak bisa dilakukan secara online menjadi nilai tambah yang membuat mal terus beradaptasi di era baru.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA