Rumah Adat Ngada di TMII Kini Tahan Api

Rizkie Fauzian 21 November 2018 14:02 WIB
TMII
Rumah Adat Ngada di TMII Kini Tahan Api
Atap rumah adat Adat SaĆ² Ngada Ine Sina di anjungan NTT, TMII, kini menggunakan bahan eco-faux yang tahan hama dan api. ,
Jakarta:Baru hitungan bulan sejak peresmiannya, rumah adat adat Saò Ngada Ine Sina di anjungan Nusa Tenggara Timur (NTT), Taman Mini Indonesia Indah (TMII), direstorasi. Bangunan yang diresmikan Februari lalu itu kini menggunakan bahan bangunan yang lebih tahan api dibanding sebelumnya.

Struktur atap menjadi fokus utama restorasi. Rangka batang-batang kayu diganti dengan baja ringan. Atap daun rumbia diganti dengan alang-alang dan bambu eco-faux dari Viro.



Teras rumah adat Saò Ngada Ine Sina di anjungan NTT, TMII, Jakarta Timur, kini memakai bahan Virobamboo yang diklaim relatif lebih tahan hama dan api. 

"Materi eco faux dirancang tidak mudah terbakar (fire retardant), bebas hama dan tahan beragam kondisi cuaca sehingga cocok menjadi alternatif untuk bangunan tradisional Indonesia," ujar Johan Yang, executive Vice President PT Polymindo Permata yang merupakan pemasok bambu eco-faux dalam proyek restorasi ini.

Masalah utama dalam memelihara rumah adat adalah rawan kebakaran, hama dan cuaca ekstrim. Sementara materi eco-faux memadukan bahan baku natural dan non-natural sehingga berdampak lebih minim terhadap lingkungan. Meski menggunakan bahan modern, namun tetap memenuhi tuntutan estetika tradisional.

“Kami harap peresmian Model Rumah Adat Saò Ngada di TMII ini dapat menjadi ikon sekaligus penggerak bagi pihak-pihak lain untuk turut berkontribusi dalam proses pembangunan kembali kampung adat yang bernilai historis tinggi tersebut dan membantu kehidupan masyarakat Gurusina yang tidak memiliki tempat tinggal,” tambah Johan.


Kebakaran kompleks rumah adat Ngada di kampung Gurusina, Jerebuu, Ngada, NTT, pada 13 Agustus 2018. MI/John Lewar

Setelah pemugaran model rumah Ngada di TMII, produk eco-faux yang dipasarkan dengan merk Viro tersebut akan merestorasi 33rumah adat Gurusina di Flores. Pada pertengahan Agustus lalu komplek rumah adat itu terbakar habis.

“Musibah itu menyadarkan kita betapa rentannya relik budaya dan bangunan adat terhadap bencana dan dampak iklim. Melalui inovasi materi eco faux, kami ingin terlibat dalam  pelestarikan budaya dan arsitektur tradisional,” tambah Johan.
 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id