Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto penggunaan bahan baku domestik dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor material konstruksi yang rentan terdampak gejolak harga maupun hambatan distribusi internasional.
“Memang paling bagusnya itu kalau bahan bakunya bertumpu pada domestik, tidak hanya atap tetapi juga material lainnya. Itu relatif akan mengurangi keterkaitan dengan gejolak global termasuk gejolak harga,” ujar Eko dikutip dari Antara, Senin, 11 Mei 2026.
Ia menjelaskan, optimalisasi material konstruksi lokal dapat membantu menjaga stabilitas biaya pembangunan rumah. Selain itu, penggunaan produk dalam negeri juga dinilai mampu memperkuat industri nasional dan menjaga keberlanjutan rantai pasok di sektor properti.
Eko menambahkan, pemerintah juga perlu memperkuat diplomasi ekonomi untuk meredam dampak ketidakpastian geopolitik global terhadap sektor perumahan dan konstruksi nasional.
Program 3 Juta Rumah sendiri diproyeksikan pemerintah mampu menggerakkan ekosistem ekonomi nasional melalui keterlibatan sekitar 185 industri turunan, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Program tersebut diyakini dapat menciptakan efek berganda terhadap perekonomian, termasuk peningkatan aktivitas usaha dan penyerapan tenaga kerja.
Pembangunan perumahan dinilai mampu mendorong permintaan terhadap berbagai produk bahan bangunan seperti semen, baja, keramik, cat, hingga perlengkapan rumah tangga. Kondisi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pelaku usaha mikro, kecil, menengah, hingga korporasi besar.
Pemerintah mencatat integrasi sektor hulu dan hilir dalam Program 3 Juta Rumah akan menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, baik selama proses konstruksi maupun setelah proyek perumahan selesai dibangun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News