Akulturasi Arsitektur Tiongkok di Indonesia

Rizkie Fauzian 08 Februari 2018 08:00 WIB
imleksafari imlek
Akulturasi Arsitektur Tiongkok di Indonesia
Rumah keluarga besar saudagar Tjong A Fie di Medan yang kini jadi museum. file/MI/Immanuel Antonius
Jakarta: Sama seperti bangunan Eropa yang memiliki gaya khas dalam bangunannya, arsitektur asal Tiongkok uga memiliki keunikan tersendiri. Keduanya merupakan komponen penting dari sistem arsitektur dunia.

Selama  berabad-abad, prinsip-prinsip arsitektur Tiongkok tidak mengalami banyak perubahan. Di dalam buku "Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota" ada pengaruh budaya setempat. Bahkan menurut Dr Pratiwo M Ach, detail arsitektur itu tidak ditemukan di Tiongkok.  


Tidak hanya di Indonesia fenomena itu terjadi. Tetapi juga dapat dilihat di pecinan di negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan yang merupakan daerah tujuan ekspedisi Laksamana Ceng Ho. Seperti dikutip dari buku “Chinese Architecture in The Straits Settlements and Western Malaya” ada beberapa perbedaannya. Halaman tengah

Ruang terbuka di bagian tengah rumah ini sifatnya private, umumnya digabung dengan kebun/taman. Di Indonesia yang beriklim tropis, nyaris tidak ada rumah Tionghoa yang memilkinya.

Kalaupun ada lebih berfungsi untuk memasukkan cahaya alami siang hari atau ventilasi saja. Sebagai ganti fungsi halaman tengah menerima kunjungan tamu keluarga dekat dan pertemuan informal, dipertahankanlah teras-teras yang cukup lebar.

Di Indonesia yang terjadi akulturasi budaya, generasi awal etnis Tionghoa terutama berkemampuan ekonomi baik rumahnya masih dilengkapi halaman tengah. Ini bisa dilihat di pecinan Lasem dan Pekalongan, Jawa Tengah.


Rumah Tjong A Fie di Medan ini juga menyediakan halaman tengah dan dilengkapi teras lebar untuk bangunan sekelilingnya.

Warna

Warna pada arsitektur Tionghoa mempunyai makna simbolik. Warna tertentu pada umumnya diberikan pada elemen yang spesifik pada sebuah bangunan. Meskipun banyak warna-warna yang digunakan, tapi warna merah dan kuning keemasan paling banyak dipakai dalam arsitektur Tionghoa di Indonesia.

Warna merah banyak dipakai pada dekorasi interior, dan umumnya dipakai untuk warna pilar. Merah menyimbolkan warna api dan darah, yang dihubungkan dengan kemakmuran dan keberuntungan,selain itu merah juga simbol dari kebajikan, kebenaran dan ketulusan, serta sesuatu yang positif. Itulah mengapa, warna merah sering dipakai dalam arsitektur Tionghoa.



Elemen struktural terbuka

Keahlian orang Tionghoa terhadap kerajinan ragam hias dan konstruksi kayu, tidak perlu diragukan lagi. Ukiran serta konstruksi kayu sebagai bagian dari struktur bangunan pada arsitektur Tionghoa, dapat dilihat sebagai ciri khas pada bangunan Tionghoa.

Detail-detail konstruktif seperti penyangga atap (tou kung), atau pertemuan antara kolom dan balok, bahkan rangka atapnya dibuat sedemikian indah, sehingga tidak perlu ditutupi. Bahkan rangka ini diperlihatkan polos, sebagai bagian dari keahlian pertukangan kayu yang piawai.

Atap bangunan



Atap berbentuk pelana dengan masing-masing ujung atap melengkung yang disebut Ngang Shan. Ciri khas ini banyak ditemukan pada bangunan di pecinan.

Feng Shui

Ini penting dalam bangunan arsitektur Tionghoa. Bangunan didirikan berdasar arah mata angin di samping itu pula ruang-ruang yang terbentuk fungsi mengikuti arah mata angin berdasarkan karakter kepala keluarga penghuninya.

Arah Utara (air) fungsi ruangnya adalah tempat cuci dan kamar mandi. Arah Timur (kayu) matahari terbit lambang kehidupan, fungsi ruangnya adalah ruang untuk bekerja. Arah Selatan (api) fungsi ruangnya untuk dapur. Arah Barat (logam) matahari terbenam maka fungsi ruangnya adalah tempat tidur/ruang istirahat.



(LHE)