FITNESS & HEALTH

5 Cara Keluar dari Mode Autopilot dan Menjalani Hidup Lebih Bermakna

A. Firdaus
Selasa 21 Juli 2026 / 14:19
Ringkasnya gini..
  • Perasaan tersebut bukan hal yang aneh.
  • Rutinitas sering membuat hidup terasa monoton.
  • Masa lalu memang tidak bisa diubah.
Jakarta: Pernah merasa hari-hari berlalu begitu saja? Bangun pagi, bekerja, menyelesaikan berbagai kewajiban, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. 

Akibatnya, waktu untuk pasangan, keluarga, bahkan diri sendiri terasa semakin sedikit. Kondisi seperti ini membuat hidup terasa tidak seimbang, dan dijalani tanpa benar-benar disadari.

Kabar baiknya, perasaan tersebut bukan hal yang aneh. Selama bertahun-tahun, para filsuf dan psikolog telah membahas cara agar hidup tidak sekadar dijalani, tetapi juga benar-benar dinikmati. 
 

Dilansir dari Psychology Today, menurut Bob Taibbi, L.C.S.W., yang memiliki pengalaman klinis selama 50 tahun, berikut lima pelajaran penting yang bisa diterapkan:
 

1. Sadari bahwa setiap keputusan adalah pilihan


Sartre dan para eksistensialis menegaskan bahwa setiap orang selalu memiliki pilihan. Bahkan saat memutuskan untuk tidak bertindak, itu tetap merupakan sebuah pilihan. Umat Buddha juga memandang kemampuan memilih sebagai salah satu hal, yang membedakan manusia dari makhluk lain.

Menyadari hal ini membantu seseorang berhenti merasa menjadi korban keadaan, dan mulai bertanggung jawab atas arah hidup yang dipilih.
 

2. Ikuti hal yang benar-benar disukai


Rutinitas sering membuat hidup terasa monoton. Oleh karena itu, penting memberi ruang untuk hal-hal yang membawa semangat dan kebahagiaan.

Nietzsche mendorong setiap orang menentukan nilai hidupnya sendiri, sementara Maslow menekankan pentingnya memilih pertumbuhan, daripada sekadar mencari rasa aman.

Tidak harus membuat perubahan besar, tetapi mulailah memasukkan aktivitas, yang benar-benar disukai ke dalam keseharian.
 

3. Belajar bersikap asertif


Asertif berarti mampu menyampaikan kebutuhan dan pendapat dengan jelas, tanpa bersikap kasar maupun terus-menerus mengalah. Sikap ini berada di tengah antara mendominasi orang lain, dan mengorbankan diri sendiri.

Para Stoik mengajarkan bahwa orang lain tidak bisa menebak isi pikiran. Oleh karena itu, kebutuhan dan keinginan perlu disampaikan secara terbuka, agar hubungan menjadi lebih sehat.
 

4. Lebih proaktif dalam menjalani hidup


Hidup yang penuh tekanan sering membuat seseorang hanya bereaksi, terhadap masalah yang datang. Padahal, kebahagiaan juga ditentukan oleh cara merespons setiap situasi.

Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi setiap orang tetap memiliki kebebasan memilih langkah berikutnya. Mengambil inisiatif dan menentukan arah hidup sendiri, akan membuat seseorang tidak sekadar bertahan, tetapi benar-benar berkembang.
 

5. Kurangi ekspektasi berlebihan


Menurut ajaran Buddha, kebahagiaan lebih mudah diraih ketika seseorang tidak terlalu terikat pada harapan tertentu. Senada dengan itu, para Stoik mengingatkan untuk fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti sikap dan respons diri sendiri, bukan perilaku orang lain atau masa depan.

Dengan menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali, setiap tantangan bisa dipandang sebagai kesempatan, untuk belajar dan terus melangkah maju.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH