FITNESS & HEALTH

Dokter: Retinopati Diabetik Masih Sering Dianggap Wajar, Padahal Bisa Dicegah

A. Firdaus
Selasa 21 Juli 2026 / 15:25
Ringkasnya gini..
  • Sistem kesehatan nasional baru mampu mendeteksi sekitar 15 juta kasus.
  • Deteksi dini justru membuka peluang penanganan lebih cepat sehingga komplikasi dapat dicegah.
  • Sekitar 85 persen informasi yang diterima manusia berasal dari penglihatan.
Jakarta: Diabetes masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Selain jumlah penderitanya yang terus meningkat, banyak kasus diabetes belum terdiagnosis sehingga komplikasi serius baru diketahui ketika kondisinya sudah parah.

Indonesia saat ini tercatat sebagai negara dengan jumlah penyandang diabetes terbesar kelima di dunia. Jumlah penderitanya diperkirakan mencapai sekitar 26 juta orang dewasa, sementara sistem kesehatan nasional baru mampu mendeteksi sekitar 15 juta kasus. Kondisi ini membuat jutaan masyarakat berisiko mengalami berbagai komplikasi tanpa disadari.

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD, mengatakan tingginya jumlah penyandang diabetes yang belum terdiagnosis menjadi tantangan besar dalam pengendalian penyakit tersebut.
 

Menurut Prof. Em Yunir, kadar gula darah yang tidak terkontrol akan terus merusak pembuluh darah dan memicu berbagai penyakit penyerta.

"Diabetes tidak datang sendiri. Penyakit ini sering disertai kolesterol tinggi, obesitas, dan hipertensi yang semakin memperparah kerusakan pembuluh darah. Dampaknya bisa menyebabkan retinopati diabetik pada mata hingga menyumbang sekitar 20 sampai 30 persen kasus pasien yang menjalani cuci darah," ujar Prof. Em Yunir.

Ia menegaskan bahwa pasien dengan retinopati diabetik harus mengendalikan gula darah sedini mungkin untuk mencegah kerusakan yang lebih berat.

Selain itu, Prof. Em Yunir mengingatkan masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri karena takut mengetahui hasil diagnosis. Padahal, deteksi dini justru membuka peluang penanganan lebih cepat sehingga komplikasi dapat dicegah.

"Kita harus mendobrak stigma bahwa mengetahui penyakit adalah sesuatu yang menakutkan. Pemeriksaan sejak dini merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan keluarga karena dapat menjaga kualitas hidup pasien," katanya.
 

Gangguan penglihatan bukan bagian normal dari penuaan


Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi., Ph.D., Sp.M., menambahkan bahwa retinopati diabetik merupakan salah satu komplikasi diabetes yang paling sering terjadi, tetapi justru masih jarang dibahas.

Akibatnya, banyak masyarakat menganggap gangguan penglihatan pada usia lanjut akibat diabetes sebagai proses penuaan yang normal.

"Padahal, kebutaan akibat retinopati diabetik sebenarnya sangat bisa dicegah apabila penyakit ditemukan lebih awal dan ditangani dengan tepat," ujar Prof. Bayu.

Ia menjelaskan bahwa sekitar 85 persen informasi yang diterima manusia berasal dari penglihatan. Karena itu, kehilangan fungsi penglihatan tidak hanya menurunkan kualitas hidup pasien, tetapi juga memberikan dampak psikologis dan fisik bagi keluarga yang merawatnya.

Menurut Prof. Bayu, kerusakan pembuluh darah di retina terjadi secara perlahan sehingga sebagian besar penyandang diabetes tidak menyadari adanya gangguan selama lima tahun pertama sejak penyakit berkembang.

Oleh sebab itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan mata, terutama bagi mereka yang telah didiagnosis diabetes. Ia juga menilai media memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa retinopati diabetik bukan kondisi yang harus dianggap wajar, melainkan komplikasi yang dapat dicegah melalui skrining rutin dan pengobatan yang tepat.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH