Smith Alhadar, penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES); Staf Ahli Institute for Democracy Education (IDe)
KEMELUT politik Yaman saat ini tak lepas dari aksi Syiah Zaidiyah pimpinan Abdul Malik Al-Houthi dukungan Iran.
Setelah menduduki ibu kota Sana'a sejak September, pada 6 Februari lalu mereka membubarkan pemerintahan Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi yang didukung Arab Saudi dan AS. Tak pelak, tindakan inkonstitusional ini menuai kecaman PBB, Liga Arab, dan GCC pimpinan Saudi. Yaman pun terjerumus dalam krisis politik yang mengancam disintegrasi bangsa.
Syiah Zaidiyah, yang akidahnya hampir tak bisa dibedakan dengan Sunni, mendiami wilayah utara. Jumlah mereka kini sekitar 40% dari total 25 juta jiwa penduduk Yaman. Iran masuk ke sana bertujuan memperkuat geopolitik dan geostrategisnya di Timur Tengah. Setelah 'mengendalikan' Irak, Suriah dan Libanon, kini giliran mereka meluaskan pengaruh ke tenggara dan timur Saudi karena Iran juga membangun hubungan dengan Syiah Bahrain.
Maka, secara tidak langsung Iran mengganggu keamanan eksternal dan internal Saudi. AS pun cemas karena Houthi membawa slogan anti-AS dan Israel. Dengan demikian, tersingkirnya Presiden Mansour Hadi membuat AS kehilangan teman untuk memerangi Al-Qaeda di Jazirah Arab (AQAP) dan Saudi kehilangan sekutu anti-Syiah (baca: anti-Iran).
Ketika pecah Arab Spring di Yaman pada 2011, kubu Al-Houthi ikut ambil bagian dalam demonstrasi anti-Presiden Ali Abdullah Saleh. Saat itu AS mendukung Saleh karena komitmennya memerangi AQAP. Apalagi saat itu AQAP semakin kuat. Selain ancaman teror, Washington juga khawatir sekiranya mereka mendominasi Yaman, kepentingan jalur perdagangan internasional melalui Laut Merah akan terganggu. Toh, Yaman menguasai Selat Bab El-Mandeb, mulut Laut Merah untuk ke Laut Tengah melalui Terusan Suez, atau sebaliknya lusinan kapal dagang dan tanker dari Teluk Persia dan Asia ke Eropa. Yaman juga strategis secara militer setelah tetangganya, Somalia, dikuasai Al-Shabab.
Ketika tekanan rakyat terhadap Saleh membesar, dan Saudi pun tak menginginkannya, AS pun mengalah untuk memberi jalan kepada Wakil Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi menggantikan Saleh. Dengan demikian, Yaman berada dalam genggaman Saudi karena Sheikh Abdullah al-Ahmar, pemimpin Partai Islah yang mendukung Mansour Hadi, berada dalam kendali Saudi. Melalui tokoh ini Saudi membangun aliansi dengan berbagai suku di sana. Karena Hadi juga bersedia bekerja sama dengan AS terkait AQAP, AS mendukung Saudi dalam pelengseran Saleh (2012).
Saat Arab Spring sedang kencang di Yaman, banyak analis menduga Saleh sengaja membiarkan AQAP berkembang untuk diadu dengan Houthi dengan tujuan menggeser isu delegitimasi dirinya menjadi isu ancaman AQAP. Maka, ketika terjadi konflik bersenjata AQAP-Houthi, skenario Saleh dianggap berhasil. Pertama, menciptakan ketakutan AS dan Saudi bahwa AQAP semakin berbahaya.
Kedua, berhasil memancing Houthi keluar dari sarangnya untuk masuk ke kawasan Sana'a guna melindunginya karena diam-diam Saleh pun telah menjalin hubungan dengan Houthi melalui militer yang loyal kepadanya. Ketiga, AQAP yang diciptakan untuk kepentingan sesaat, dilemahkan setelah secara bodoh membuka konfrontrasi dengan Houthi. Di saat bersamaan, posisi Saleh makin kuat karena dilindungi putranya, Jenderal Ahmad Abdullah Saleh, yang mengendalikan Garda Nasional, yang membawahi AL, AD, dan AU Yaman.
Namun, terkonsentrasinya pasukan Yaman di sekitar ibu kota dan kawasan utara membuat kawasan Selatan--yang sudah lama tidak puas dengan pemerintahan yang didominasi Utara--kurang terjaga, bergolak ingin memisahkan diri. Mayoritas Yaman Selatan penganut mazhab Syafi'i. Ditambah minoritas Hanafi dan Hambali, jumlah Sunni sekitar 60% dari total penduduk Yaman.
Namun, kubu Houthi homogen dan solid. Sementara Selatan terbagi dalam berbagai faksi politik dan suku, dan tidak terkoordinasi, serta diganggu AQAP yang berbasis di kawasan mereka. Tapi kalau krisis tak teratasi, perang saudara bisa pecah kembali di Yaman seperti tahun 1994 antara Yaman Utara dan Yaman Selatan. Bahkan, perang saudara kali ini bisa lebih mematikan dan sulit diatasi karena kini kekuatan lain, yakni AQAP, ikut terlibat.
Al-Houthi menyadari ini. Maka sejak 9 Februari lalu ia mensponsori pertemuan dengan semua faksi politik, termasuk partai mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang masih berambisi untuk berkuasa kembali, yang dihadiri utusan PBB Jaman Benomar. Semoga solusi politik atas krisis yang kian memburuk ini bisa dicapai dan memuaskan pihak asing yang berkepentingan di Yaman.
Bila tidak, Iran, Saudi, dan AS akan intervensi. Kalau itu terjadi, bisa terjadi krisis yang lebih besar yang merugikan mereka. Misalnya, persaingan Iran-Arab-AS, yang mendorong mereka campur tangan di Afghanistan, Irak, dan Suriah, telah menciptakan Taliban dan ISIS, yang pada gilirannya melahirkan para jihadis yang mengancam kepentingan mereka sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
