Presiden Joko Widodo memeluk erat Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Biro Pers Setpres/MI/Antara
Presiden Joko Widodo memeluk erat Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Biro Pers Setpres/MI/Antara (Abdul Kohar)

Abdul Kohar

Direktur Pemberitaan Medcom.id

Salaman, Makan Malam, Berpelukan

Pilar Partai NasDem Kongres NasDem
Abdul Kohar • 12 November 2019 12:26
PANGGUNG di The 3-Tier Theatre JI Expo Kemayoran, Jakarta, Senin malam (11 November 2019), mampu meluruhkan seluruh ketegangan politik yang ingar-bingar dalam sepekan terakhir. Bukan cuma itu, peristiwa puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-8 Partai NasDem tersebut mampu membalikkan 180 derajat segala tafsir yang aneh-aneh--sebagian dibumbui curiga dan prasangka--tentang 'silaturahmi kebangsaan' Partai NasDem ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tempo hari.
 
Jagat politik Tanah Air pun seketika adem bak disiram es, di tengah cuaca sebagian wilayah di Republik ini yang sedang panas hingga lebih dari 35 derajat Celcius. Ada tiga sosok 'penabur es' dalam panggung megah di JI Expo itu: Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Presiden RI Joko Widodo, dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
 
Ketiganya memang tengah disorot tersebab 'kiprah' dan gestur tubuh mereka. Berawal dari Megawati yang luput menyalami Surya Paloh saat pelantikan anggota DPR, lalu muhibah Surya Paloh dan jajaran petinggi NasDem ke PKS yang diakhiri pelukan hangat Surya Paloh-Sohibul Iman (Presiden PKS), diikuti komentar Jokowi atas pelukan hangat itu, tafsir politik yang sangat spekulatif dan liar hingga syak wasangka pun merebak di mana-mana.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Tafsir liar
Ada yang menyebut tidak salamannya Megawati dengan Surya Paloh merupakan kesengajaan. Mega sebagai representasi PDI P dicurigai tengah jengkel dengan Surya Paloh dan Partai NasDem-nya karena kiprah politiknya akhir-akhir ini. Tafsir atas pelukan hangat Surya Paloh-Sohibul Iman lebih 'liar' lagi: Partai NasDem dinilai tengah memainkan dua kaki dengan menjadi koalisi sekaligus bermesraan dengan oposisi. Belum selesai sampai di situ, tafsir 'canggih-canggih' juga mulai berhamburan seusai candaan Jokowi atas pelukan hangat Surya-Sohibul yang menyebut bahwa Jokowi mulai 'terganggu' dengan kemesraan keduanya.
 
Bola liar tafsir politik kian ditendang ke sana ke mari ketika Pembukaan Kongres Ke-2 Partai NasDem diawali dengan ucapan selamat datang dari Gubernur Jakarta Anies Baswedan dan diisi ceramah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di sela-sela perhelatan Kongres. Arah bola liar itu ialah NasDem tengah menggadang-gadang kedua kepala daerah tersebut sebagai calon presiden pada Pemilu 2024.

Namun, banyak yang kecele begitu menyaksikan apa yang terjadi di gedung teater sesungguhnya di pinggir Jalan Benyamin Sueb Kemayoran, Jakarta itu. Lagi-lagi juga tersebab tiga hal: bersalaman, makan malam, lalu berpelukan.


Tanda-tanda bakal datangnya hawa dingin politik sudah ada sejak beberapa jam sebelumnya, saat Jokowi dan Megawati mengonfirmasi bakal hadir di malam puncak peringatan HUT Partai NasDem tersebut. Makin menjadi kenyataan begitu Megawati, dengan didampingi putrinya Puan Maharani, menginjakkan kaki di JI Expo Kemayoran. Keduanya disambut langsung Surya Paloh yang baru terpilih kembali sebagai Ketua Umum Partai NasDem secara aklamasi. Keduanya, saling bersalaman dan berbincang santai menuju ruang santap malam.
 
Berselang beberapa saat kemudian, hadir Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin di lokasi yang sama. Mereka pun dengan rileks menikmati hidangan makan malam bersama yang telah disediakan, termasuk sup hangat yang kian menambah rasa kehangatan di antara mereka.
 
Lalu, panggung sesungguhnya terjadi saat ketiga tokoh sentral yang membetot perhatian itu memasuki arena teater tempat peringatan HUT. Saat Surya Paloh menyebut tetamu yang hadir, terutama saat menyebut Mbak Mega yang saya sayangi, seluruh isi gedung bersorak dan bertepuk tangan. 'Mak clesss...' celetuk salah seorang yang hadir.
 
Megawati yang disebut pun tersenyum dan menggukkan kepala. Di sampingnya, terpaut satu kursi, Jokowi pun tak kalah semringah.
 
Tawa lepas dan tepuk tangan gemuruh juga terjadi saat dalam pidatonya Surya Paloh menyebut belum tentu NasDem mencapreskan Anies Baswedan, Ridwan Kamil, atau sosok kader Partai NasDem di 2024 karena jalan menuju ke sana bakal ditempuh melalui mekanisme konvensi terbuka.
 
Merawat politik harapan
Suasana makin cair saat Jokowi menyampaikan pidato dengan menyatakan bahwa dirinya sangat mendukung niat baik Partai NasDem melakukan silaturahmi kebangsaan dengan partai manapun, termasuk PKS. Presiden bahkan menyebut bakal memeluk erat Surya Paloh seerat, atau malah lebih erat, pelukan Surya-Sohibul.
 
Dan, momen itu pun tiba seusai Jokowi menutup pidatonya. Sebelum duduk di kursi, pelukan hangat yang dijanjikan pun terjadi. Seisi ruangan bergemuruh dan bertepuk tangan, tak terkecuali Megawati dan Gubernur Anies Baswedan yang duduk di deretan para gubernur yang diundang. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang duduk di sebelah Anies pun mengambil gawai dan memotret aksi yang dinanti-nantikan tersebut.
 
Suasana benar-benar lumer, bahkan cair secair-cairnya. Salingcanda dan tawa lepas merebak di seluruh sudut The 3-Tier Theatre. Misalnya, saat Hasan Aminudin mengakhiri pembacaan doa dengan menyampaikan salam penutup menggukanakan kalimat 'wallahul muwafiq illa aqwamith thariq..', di deretan kursi ketua umum partai sahabat, tampak Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin menyolek koleganya yang kini Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid. Mungkin mereka bercanda, "Salamnya kayak kita, dari NU."
 
Ketua Pemuda Muhammadiyah Sunanto atau Cak Nanto, tersenyum kepada saya seraya bercanda, "Enggak apa-apa salamnya bergaya Nahdliyin, yang penting tadi waktu di gambar video perjalanan Partai NasDem, yang ada adalah gambarnya Buya Syafii (Maarif)."
 
Di penghujung acara, saat parade kesenian dan tari serta lagu-lagu daerah dilantunkan, Megawati terlihat sangat menikmati sajian itu. Sesekali Presiden Ke-5 RI itu ikut menyanyikan lagu daerah yang disajikan sembari menggoyang-goyangkan kepalanya mengikuti irama.
 
Di akhir acara, Sohibul Iman yang duduk di sisi kanan, berjalan merapat ke tengah dan seketika diajak Surya Paloh untuk bersalaman dengan Puan Maharani, Megawati, Ma'ruf Amin, Jokowi, dan Jusuf Kalla. Kilatan lampu juru kamera pun serentak muncul.
 
Begitulah, ketika rumah politik di negeri ini diisi kebisingan, kecurigaan, ketegangan, dan saling intip, Partai NasDem mampu menciptakan forum 'katarsis' yang meluruhkan semua 'dalil-dalil' liar yang dimunculkan dalam pekan-pekan terakhir ini. Kini, sejenak ketegangan itu sirna. Muncul harapan bahwa panggung politik sebenarnya tak setegang yang digambarkan para pengamat, baik yang profesional maupun amatir.
 
Politik pun kembali menghadirkan apa yang disebut oleh mantan senator negara bagian Oregon AS, Donna Zajonc, sebagai 'membangkitkan politik harapan'. Dalam sebuah tulisannya Zajonc menyebut untuk membangkitkan politik harapan, sebuah bangsa harus keluar dari tahap anarki, tradisionalisme, apatisme menuju penciptaan pemimpin publik yang sadar.
 
Tahap politik harapan ialah fase keempat perjalanan evolusi politik ketika para pemimpin menyadari pentingnya merawat harapan dan optimisme dalam situasi krisis. Yaitu, memahami kesalingtergantungan realitas dan kesediaan melayani kepentingan publik dengan menerobos batas-batas politik lama yang penuh curiga, syak wasangka, saling menutup--kadang menjegal. Pada fase ini, kekuasaan politik digunakan untuk memotivasi dan memberi inspirasi keteladanan yang memungkinkan orang lain mewujudkan harapan tersebut.
 
Lalu, selama apa situasi lumer yang dibangun oleh Partai NasDem ini mampu bertahan? Jawabannya, sangat tergantung kepada keteguhan kita semua dalam merawat politik harapan.[]
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif