Prof MC Ricklefs di Kantor CSIS, Tanah Abang, Jakarta, Senin (25/11)/MI/Rommy Pujianto
Prof MC Ricklefs di Kantor CSIS, Tanah Abang, Jakarta, Senin (25/11)/MI/Rommy Pujianto (Rerie Lestari Moerdijat)

Rerie Lestari Moerdijat

M.C. Ricklefs dan Pengakuan terhadap Ratu Kalinyamat

Pilar obituari
Rerie Lestari Moerdijat • 30 Desember 2019 13:48
BERITA duka tersiar. Telah berpulang, Prof. M.C. Ricklefs pada Minggu, 29 Desember 2019, pukul 10.30 waktu Melbourne, Australia, dalam usia 76 tahun (1943 - 2019).
 
Sejarawan Indonesia pasti mengenal Ricklefs. Dia adalah ahli sejarah Indonesia berkewarga-negaraan Australia yang lahir di Amerika.
 
Kajian dan obyek utama penelitiannya adalah sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan pengaruhnya pada kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Ricklefs, banyak mengungkap aspek pergulatan masyarakat Jawa dalam menghadapi perubahan budaya pada masa 1600 hingga kini akibat masuknya pengaruh kebudayaan Islam dan Barat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Karya besarnya menjadi sumbangsih luar biasa bagi dunia sejarah Indonesia. Bahkan, buku yang ditulisnya menjadi rujukan utama berbagai penelitian mengenai perkembangan Islam di Jawa dan Indonesia. Almarhum adalah sejarawan kontemporer Australia yang memiliki otoritas dalam sejarah Jawa (dan Indonesia), terutama pada periode 1600-an hingga 1900-an. Pada tahun 2003, Pemerintah Australia memberikan kepadanya Centenary Medal atas pelayanan kepada masyarakat Australia dan humaniora dalam studi Indonesia.
 
Ricklefs juga mendapat Anugerah Kebudayaan Kategori Perorangan Asing 2016 dari Pemerintah Republik Indonesia (RI).
 

Ricklefs dan Ratu Kalinyamat
 
Dalam kurun waktu setahun terakhir, kami, Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL) yang berkedudukan di Jepara, tengah menginisiasi kembali usaha agar Ratu Kalinyamat, tokoh perempuan pemimpin dari Jepara untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah Indonesia.
 
Minimnya data primer yang menjadi rujukan serta kajian akademis yang terbatas menyebabkan beberapa usaha pengajuan oleh beberapa pihak terdahulu belum berhasil.
 
Oleh sebab itu, sebagai inisiator yang ingin kembali mengajukan permohonan tersebut, tim ahli YDBL melakukan telaah dan kajian akademis dengan sangat cermat, penuh kehati-hatian, agar dokumen pendukung yang disusun dapat memenuhi persyaratan.
 
Dalam konteks inilah nama M.C. Ricklefs terdengar berulang kali dalam diskusi-diskusi yang dilakukan tim ahli YDBL.
 
Salah satu buku pentingnya “The History of Modern Indonesia since 1200”, memuat dan mempertegas tentang keberadaan Ratu Kalinyamat di Jepara.
 
Dalam buku tersebut, Ricklefs menyebut keberadaan kota makmur Jepara dengan Ratu Kalinyamat sebagai penguasanya waktu itu.
 
Pada halaman 44-45 dengan jelas tertulis: “...Jepara merupakan kota pelabuhan penting lainnya saat itu. Pada awal 1513 penguasanya, yaitu Yunus, memimpin pasukan perang yang kabarnya terdiri dari 100 kapal dan 5000 pasukan dari Jepara dan Palembang untuk menyerang Portugis di Malaka, meskipun dia akhirnya dikalahkan. Sekitar 1518 atau 1512, dia juga menjadi penguasa terhadap Demak. Namun pengaruh Jepara menjadi sangat besar pada tahun-tahun berikutnya pada abad ke-16 ketika Jepara berada di bawah kekuasaan dari seorang Ratu yang bernama Ratu Kalinyamat. Pada tahun 1551 Jepara membantu Johor dalam misi penyerangannya yang tidak begitu sukses terhadap Malaka, dan kemudian pada 1574 Jepara kembali mengepung Malaka selama tiga bulan.” (Terjemahan dari penulis).
 
Salah satu alasan penolakan terhadap pengajuan gelar Pahlawan Nasional bagi Ratu Kalinyamat pada 2008 adalah keberadaannya yang masih dipertanyakan. Karena itu, pernyataaan Prof. Ricklefs di atas sungguh sebuah kunci penting yang menjadi rujukan bagi tim ahli dan dapat diajukan sebagai argumen kuat bahwa pengaruh Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara pada pertengahan abad ke-16 adalah nyata.
 
Sebagai kota pelabuhan terpenting sejak awal abad itu, pengaruh Jepara menjadi semakin besar pada saat dipimpin oleh Ratu Kalinyamat, yang karenanya Ratu mampu membantu Johor dalam melawan Portugis di Malaka.
 

Narasumber kunci
 
Tim ahli YDBL yang terdiri dari: Prof. Dr. Ratno Lukito -guru besar UIN Sunan Kalijaga, Dr. Irwansyah - dosen ilmu komunikasi UI , Dr. Alamsyah dan Dr. Chusnul Hayati -sejarawan Undip, Dr. Widya Nayati -arkeolog UGM, Dr. Connie Rahakundini Bakrie -pakar maritim Unversitas Pertahanan Nasional, dan Bambang Sulistyanto -arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kemendikbud, secara khusus menjadikan tulisan M.C. Ricklefs sebagai sumber untuk memperkuat kajian akademis yang tengah dilakukan dan menegaskan kembali pentingnya menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional.
 
Bahkan, dalam beberapa diskusi tim ahli telah bersepakat berencana untuk secara khusus pada waktunya nanti mengundang dan menghadirkan Prof. M.C. Rickles dalam seminar nasional Ratu Kalinyamat yang rencananya akan diadakan tahun depan. Tim berpandangan, Prof. M.C. Ricklefs adalah narasumber penting yang dapat memperkuat dan menunjukan pengakuan keberadaan Ratu Kalinyamat dalam eksistensi sejarah perempuan Jawa di Indonesia.
 
Kini, gagasan itu pupus. Seminar yang direncanakan dengan angan-angan menghadirkannya sebagai pembicara utama tidak akan mungkin dilakukan.
 
Selamat Jalan Prof. M.C. Ricklefs, doa kami menyertaimu. Karya-karyamu tidak akan hilang - dan akan terus menjadi rujukan inspirasi tentang pentingnya sejarah dalam mengambil hikmah dari kehidupan masa lalu demi membangun kehidupan masa kini dan akan datang (Al-Muhafadzah ‘ala qadimissolih wal-ahdlu bil-jadidil aslah).
 
Dengan mengutip bukumu, izinkan kami (Yayasan Dharma Bakti Lestari dan saya - Lestari Moerdijat , anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jepara, Kudus dan Demak) bersama segenap komponen masyarakat Jepara - akan terus berjuang, mengabarkan kebesaran dan kepemimpinan Ratu Kalinyamat - perempuan dengan pemikiran yang melampaui jamannya.[]
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif