()

Meninggalkan Kelam Menuju Terang Harapan

14 Oktober 2015 07:27
SALAH satu penanda penting dari peristiwa yang melatari lahirnya Tahun Baru Hijriah ialah momentum pembaharuan dan transformasi. Ia menjadi penanda bagi munculnya era baru yang penuh pencerahan, menggantikan masa kelam jahiliah.
 
Peristiwa hijrah yang menjadi titik awal penanggalan itu bukan sekadar peristiwa biasa. Sejarah mencatat dengan tebal bahwa hijrah telah melahirkan spirit persamaan, demokrasi, gotong royong, yang dilandasi oleh dimensi spiritualitas yang mendalam.
 
Salah satu produk hijrah ialah Piagam Madinah. Di antara isi Konstitusi (Piagam) Madinah yang penting adalah menjamin kebebasan beragama, larangan saling mengganggu satu sama lain, harus membantu satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari, dan membela bangsa dari segala pelemahan dan agresi.
 
Maka, dengan spirit seperti itu pulalah mestinya negeri ini kini dihela. Dalam spirit hijrah orang bebas menjalankan ibadah menurut keyakinan tanpa rasa takut, tidak ada pelenyapan nyawa manusia karena perbedaan, serta bahu-membahu mewujudkan kesejahteraan bersama. Apalagi, tantangan yang dihadapi bangsa ini hari-hari ini dan ke depan kian terjal. Jalan menuju kesejahteraan masih saja terganjal karena perekonomian yang lesu darah. Namun sayangnya, di tengah situasi sulit seperti itu, masih pula banyak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
 
Di tataran politik, etika masih saja kalah oleh kehendak berlebihan memburu kekuasaan dengan beragam cara. Uang masih saja menjadi penuntun jalan menuju kursi kekuasaan. Karena itu, tidak mengherankan bila kerja-kerja cerdas di bidang politik nyaris nihil, tergantikan oleh kegaduhan yang tidak perlu.
 
Ironisnya lagi, penyakit politik bising itu kini menjalar ke kabinet. Debat antarmenteri dipertontonkan secara telanjang, menggantikan spirit bahu-membahu mengatasi masalah bersama. Perdebatan tidak disemaikan secara elegan dalam forum-forum kenegaraan, tapi malah diumbar terus-terusan ke publik. Air kolam yang tadinya mulai agak bening pun kini kembali keruh.
 
Kegaduhan itu membuat serangkaian kebijakan penyelamatan bangsa ini dari krisis ekonomi ikut terganggu. Rakyat yang telah berbulan-bulan menahan diri untuk mengonsumsi segala kebutuhan secara ala kadarnya karena nyaris kehilangan daya beli, dibuat kian gigit jari karena para elitenya tak peduli.
 
Tantangan bertambah berat karena cara-cara beradab dalam meniti kehidupan kebangsaan masih jauh panggang dari api. Tengoklah bagaimana jutaan manusia mengalami sesak napas, terkurung di rumah, terkurangi hak mendapatkan pendidikan secara penuh karena asap yang enggan berlalu. Asap itu muncul lebih karena cara barbar membakar lahan dan hutan demi mereguk keuntungan pribadi.
 
Pada titik itulah, kita mengetuk hati para pemimpin agar insaf bahwa ruang kebebasan yang memungkinkannya berkuasa hanya dapat dipertahankan sejauh dipertautkan dengan tanggung jawab dan penghormatan pada rakyat. Berhijrahlah meninggalkan dan menanggalkan segala laku yang mengkhianati spirit perjuangan bangsa demi meraih kebahagiaan dan kemakmuran bersama, bukan kebahagiaan dan kemakmuran orang per orang.
 
Singkirkan ego individual dan ego sektoral, karena kesejahteraan tidak akan tercapai dengan cara-cara seperti itu. Bermula dari keinsafan para pemimpin di pusat teladan, kita berharap akan mengalir berkah ke akar rumput, membawa bangsa keluar dari kelam krisis menuju terang harapan. Pemerintahan ini telah berusia satu tahun. Inilah saatnya berhijrah menuju pemerintahan yang lebih baik demi mewujudkan harapan rakyat akan kemajuan dan kesejahteraan bersama.
 
Selamat Tahun Baru 1437 Hijriah!
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Oase

TERKAIT
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif