Fenomena silent call atau call hening kini marak terjadi dan menjadi pintu masuk berbagai kejahatan siber. Dosen Program Studi Ilmu Komputer IPB University, Heru Sukoco, membagikan cara mencegah penipuan dengan silent call.
Cara mencegah penipuan dengan silent call
Heru mengingatkan masyarakat tidak merespons panggilan silent call. Ia menegaskan prinsip utama yang harus dipegang adalah abaikan dan jangan telepon balik.“Jangan angkat, jangan telepon balik, blokir dan abaikan karena panggilan tersebut merupakan tahapan awal dari penipuan berbasis telepon,” pesan Heru, Kamis, 16 April 2026.
Heru menuturkan fenomena silent call merupakan bagian dari social engineering atau scam yang tengah meningkat. Panggilan ini biasanya tidak bersuara atau terputus setelah beberapa detik.
Tujuannya beragam, mulai dari mengecek apakah nomor aktif, memancing korban melakukan call back, hingga mengumpulkan data untuk serangan lanjutan.
Heru menyebut risiko dari silent call tidak bisa dianggap sepele. Nomor korban berpotensi masuk dalam daftar target penipuan, diarahkan ke skema lanjutan seperti one time password (OTP) dan phishing, hingga terhubung ke nomor premium berbiaya tinggi jika melakukan panggilan balik.
Nah, untuk menghindari hal tersebut, ia menyarankan masyarakat tidak mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal, terutama nomor luar negeri yang mencurigakan. Apabila memang penting, biasanya penelepon akan menghubungi kembali atau mengirim pesan singkat.
Ia juga menekankan agar tidak pernah melakukan call back. “Tindakan ini adalah yang paling sering menjebak, karena banyak scam menggunakan teknik ‘missed call bait’,” ujar dia.
Masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk perlindungan tambahan. Misalnya menggunakan aplikasi pihak ketiga yang dapat membantu mengidentifikasi nomor spam, memblokir otomatis, serta memberi label panggilan mencurigakan.
Ia juga menyarankan mengaktifkan fitur bawaan ponsel seperti silence unknown callers atau block unknown numbers.
“Apabila panggilan terlanjur terangkat, hindari menjawab ‘ya’ karena suara tersebut dapat direkam dan disalahgunakan untuk manipulasi data pribadi seperti OTP, NIK, atau informasi perbankan,” saran dia.
Menurut dia, edukasi keluarga menjadi langkah penting, terutama bagi orang tua dan anak-anak yang rentan menjadi target penipuan. Mereka diimbau tidak panik dan tidak mudah percaya terhadap ancaman melalui telepon.
Heru juga menekankan pentingnya peningkatan literasi digital masyarakat, peran operator dalam memfilter pola panggilan mencurigakan, serta kolaborasi lintas pihak untuk membangun basis data spam nasional.
Fenomena silent call menunjukkan kewaspadaan sederhana dari masyarakat dapat menjadi pertahanan utama dalam menghadapi kejahatan digital yang semakin berkembang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News