Di tengah gempuran budaya harus selalu produktif (hustle culture), seseorang bisa terjebak dalam kondisi functional burnout, tetap mampu bekerja, menyelesaikan kuliah, atau menjalankan tanggung jawab harian, meski energi dan kesehatan mentalnya terus terkuras hingga ke titik nadir.
Wakil Dekan II Fakultas Psikologi (Fpsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Onny Fransinata Anggara, menjelaskan bahwa kelelahan merupakan hal yang sangat manusiawi. Namun, jika dibiarkan tanpa penanganan, kelelahan tersebut berpotensi merusak fungsi diri secara perlahan.
salah satu indikator utamanya dapat dilihat dari penurunan efisiensi kerja. Onny mengilustrasikan seseorang yang biasanya sanggup menyelesaikan lima laporan dalam sehari, perlahan turun hanya mampu mengerjakan tiga, dua, bahkan satu laporan saja.
“Orang yang sedang burnout tetap bisa beraktivitas, tetapi produktivitasnya mulai menurun,” jelas Onny dikutip dari laman Unesa, Selasa, 20 Oktober 2026.
Jebakan Pikiran dan Perbandingan Sosial
Menurut Onny, pemicu burnout tidak selalu berakar dari tumpukan beban kerja fisik. Pola pikir, cara merespons tekanan, hingga kecenderungan menguras energi mental untuk memikirkan hal-hal di luar kendali pribadi memegang peran besar.Keadaan akan makin memburuk ketika seseorang terjebak dalam kebiasaan membandingkan pencapaian pribadinya dengan garis waktu (timeline) hidup orang lain yang jelas berbeda.
Di sinilah tuntutan untuk selalu produktif berubah menjadi jebakan yang beracun. Ketika waktu istirahat dicap sebagai bentuk kemalasan dan mengambil jeda dirasakan seperti sebuah kekalahan, seseorang akan terus memaksakan dirinya hingga benar-benar tumbang.
Mencegah "Kebocoran" Emosi
Onny Fransinata Anggara, S.Psi., M.Psi., Psikolog., dosen sekaligus Wakil Dekan II Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya.Ketika sinyal kelelahan mulai mengganggu fungsi harian, Onny menyarankan pentingnya mengambil jarak sejenak dari sumber tekanan, mulai dari beristirahat, mengambil cuti, bercerita kepada sosok yang dipercaya, hingga menyalurkan emosi lewat aktivitas fisik yang sehat. Jika kondisi berlanjut dan mengganggu kepercayaan diri, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental menjadi langkah bijak yang perlu dipertimbangkan.
Di samping itu, Onny memberikan catatan kritis agar kelelahan di tempat kerja tidak dilampiaskan kepada orang-orang tercinta di rumah.
“Jangan sampai kelelahan dari pekerjaan dilampiaskan kepada orang-orang terdekat. Keluarga yang selama ini menjadi alasan kita berjuang, jangan sampai justru ikut menanggung dampak dari tekanan mental yang tidak terkelola dengan baik,” ingatnya.
Bukan Cuma Beban Individu
Onny menegaskan bahwa mencegah burnout bukanlah tanggung jawab tunggal individu. Pekerja dengan target tinggi, mahasiswa yang berjuang menyelesaikan skripsi, hingga orang tua yang menjalani peran pengasuhan membutuhkan sistem pendukung (support system) yang sehat.“Kesehatan mental tidak hanya bergantung pada kemampuan individu dalam mengelola diri, tetapi juga pada lingkungan yang mendukung. Kita perlu membangun lingkungan dan organisasi yang tidak hanya berfokus pada produktivitas, tetapi juga menjaga stabilitas mental. Ini tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia (10 Oktober) menjadi pengingat bahwa mengenali batas kemampuan, beristirahat, dan meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan atau bentuk lari dari tanggung jawab.
“Jangan sampai kita terus memaksakan diri demi menyelesaikan segala hal, tetapi kehilangan kegembiraan dalam menjalaninya. Hidup bukan perlombaan untuk selalu lebih cepat dari orang lain, dan istirahat bukan sesuatu yang harus menunggu sampai kita benar-benar tumbang,” pungkas Onny.