Indonesia memiliki cukup beragam jenis ikan arwana. Ada arwana papua (Scleropages jardini); arwana australia (Scleropages leidcharti), arwana super red, arwana red banjar, arwana red tail golden, green arwana (Scleropages formosus). Dari beragam jenis ini, ikan arwana super red jadi yang paling laris.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2018, ikan arwana super red terjual sebanyak 4.058 ekor dengan harga total lebih dari Rp10 miliar. Sedangkan, pada 2019, terjual sebanyak 2.360 ekor dengan harga total sebesar Rp2,5 miliar.
Namun demikian, ikan ini berstatus terancam yang disebabkan karena penangkapan dan perubahan lahan serta penurunan kualitas lingkungan. Budidaya jadi salah satu upaya tetap menjaga kelestarian arwana super red.
Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) Darmawan Setia Budi mengatakan, budidaya ikan arwana cukup susah dan memakan waktu lama. Pematangan seksual atau alat kelamin dari bentuk telur hingga dewasa membutuhkan waktu 2-4 tahun.
Jumlah telur yang dihasilkan juga cukup sedikit, berkisar antara 20 hingga 90 butir telur. Sedangkan, waktu untuk mengerami telurnya juga tergolong sangat lama, yakni umumnya pada kisaran 50 hari. Selain itu, kendala penting lainnya adalah proses identifikasi antara jantan dan betina yang sulit dibedakan.
Baca: Alumnus UNS Beberkan Rahasia Penghasilan Melejit Selama Pandemi
Darmawan menerangkan, pemijahan ikan arwana secara alami hanya terjadi pada Juli dan November. Namun, dapat juga dilakukan di luar musim tersebut dengan syarat memberikan nutrisi yang cukup. Ia juga menjelaskan bahwa waktu pengeraman telur ikan dapat dipercepat dengan menempatkan telurnya pada inkubator agar indukan dapat melakukan proses reproduksi selanjutnya.
"Sehingga dapat mengatasi jumlah keterbatasan induk, jadi proses reproduksi selanjutnya dapat berjalan lebih cepat," kata Darmawan mengutip siaran pers UNAIR, Jumat, 13 Agustus 2021.
Darmawan juga mengenalkan teknologi rekayasa produksi yang dapat dilakukan pada ikan arwana. Teknologi tersebut adalah transplantasi sel germinal yang digunakan untuk mendapatkan induk semang atau induk pengganti.
Sebagai contoh, pada ikan arwana super red yang sering mengalami kendala reproduksi, maka akan digunakan indukan pengganti dengan menggunakan ikan arwana jenis lain yang mudah melakukan reproduksi.
"Jadi diambilnya jaringan dari ikan arwana super red yang dimasukkan (misal) ke arwana silver. Sehingga nantinya dapat dikembangkan ikan arwana silver yang bertelur ikan arwana super red," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News