Wamendiktisaintek, Stella Christie. Foto: Humas Diktisaintek
Wamendiktisaintek, Stella Christie. Foto: Humas Diktisaintek

Mengejutkan! 90% Juara Dunia Bukan Juara Waktu Kecil, Wamen Stella: Jangan Paksa Anak

Citra Larasati • 04 Januari 2026 14:00
Jakarta: Banyak orang tua yang terobsesi agar anaknya selalu menjadi juara kelas atau memenangkan berbagai kompetisi sejak dini. Namun, anggapan bahwa prestasi gemilang di masa kecil adalah jaminan kesuksesan di masa depan ternyata dipatahkan oleh sains.
 
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Stella Christie, membagikan fakta mengejutkan dari penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal bergengsi, Science, pada 18 Desember 2025.
 
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @prof.stellachristie, Stella mengungkap bahwa sosok jenius seperti pemenang Nobel, komposer musik ternama, hingga atlet kelas dunia, mayoritas bukanlah anak yang "jagoan" waktu kecil.

Dalam videonya, Stella menjelaskan bahwa data statistik menunjukkan realita yang berlawanan dengan asumsi publik. "Data menunjukkan bahwa 90 persen dari atlet dunia, grandmaster catur, pemenang Nobel, ternyata bukan juara waktu mereka kecil. Sebaliknya, kebanyakan top atlet kecil (di atas 80 persen) tidak menjadi atlet dunia!" tegas Stella.
 
Ia menunjukkan grafik di mana anak-anak yang performanya biasa saja di awal (digambarkan dengan garis kuning), justru menyalip anak-anak yang performanya tinggi di awal (garis biru) saat beranjak dewasa.
 
Lantas, apa yang sebenarnya membuat seseorang menjadi jenius atau ahli di bidangnya? Stella merangkum dua kunci utama berdasarkan riset tersebut:
 
Pertama adalah proses dan waktu. Pertumbuhan harus dilakukan secara bertahap. Stella mengutip pepatah Jawa "alon-alon asal kelakon" yang berarti pelan-pelan asal selamat/tercapai.
 
Kedua yaitu lintasdisiplin. Para jenius dewasa ternyata saat kecil banyak berlatih di berbagai bidang, bukan hanya satu bidang yang kini ditekuninya.
 
"Jenius dewasa waktu kecil atau muda banyak latihan bidang lain. Sebaliknya, juara-juara kecil biasanya hanya intensif latihan satu hal, tapi sangat sedikit dari mereka yang jadi juara dunia," jelasnya.
 
Guru Besar Tsinghua University ini pun mencontohkan pengalaman pribadinya. Ia berterima kasih kepada sang ibu yang dulu mendukungnya mencoba berbagai hal, mulai dari balet, baca puisi, hingga teater.
 
"Walaupun saya tidak jadi aktris, tidak jadi penyair, tidak jadi penari, tapi semua (ilmu itu) berguna sekali," ujarnya.
 
Menutup penjelasannya, Stella mengajak orang tua, guru, dan pemerintah untuk merancang pendidikan berbasis bukti sains (evidence-based), tak hanya berlandaskan persepsi.
 
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sendiri berkomitmen menerapkan temuan ini, baik di program sekolah unggulan maupun perguruan tinggi, agar pemuda Indonesia memiliki kesempatan menjadi juara dunia. "Ayo kita gunakan bukti sains untuk merancang pendidikan. Jangan sekedar berpegang pada pendapat dan persepsi yang mungkin salah," pungkasnya. (Sultan Rafly Dharmawan)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan