Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko (kanan) dan Dubes Australia untuk Indonesia, Penny Wiliams (kiri) . Foto: Zoom
Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko (kanan) dan Dubes Australia untuk Indonesia, Penny Wiliams (kiri) . Foto: Zoom

Peneliti Australia Keluhkan Izin Penelitian di Indonesia Terlalu Kaku

Citra Larasati • 08 Juli 2021 17:26
Jakarta:  Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko berjanji akan mengevaluasi dan mereformulasikan regulasi perizinan penelitian menjadi lebih sederhana.  Pernyataan ini disampaikan Handoko merespons masukan yang disampaikan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Penny Wiliams soal terlalu birokratisnya perizinan penelitian di Tanah Air.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko melakukan pertemuan dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia YM Penny Wiliams, melalui video conference.  Pada Kesempatan tersebut, Handoko menyampaikan ucapan selamat atas penugasan Penny di Indonesia.

Ia menilai Australia merupakan salah satu mitra strategis bagi Indonesia khususnya dalam bidang Iptek dan Inovasi. 

“Tentu saja Australia merupakan mitra penting bagi Indonesia, hal ini dibuktikan dengan banyaknya kolaborasi antara peneliti, universitas dan juga lembaga penelitian yang terlibat antara Indonesia maupun Australia sejauh ini, saya sangat mengapresiasi hal tersebut” ungkap Handoko dalam siaran pers yang diterima Kamis, 8 Juli 2021.

Penny dalam pertemuan tersebut menyambut baik pembentukan BRIN. Ia menilai hal ini merupakan sinyal komitmen dari Pemerintah Indonesia untuk melangkah lebih maju dalam mencapai ekonomi yang berbasis pengetahuan.

Ia berharap ke depannya Australia dapat berkolaborasi lebih lanjut dengan BRIN.  Namun Penny juga menyampaikan masukan tentang rumitnya regulasi dan perizinan penelitian di Indonesia.  Hal ini, kata Penny telah menjadi perhatian para peneliti Australia.

Peneliti Australia menilai perizinan penelitian di Indonesia cukup birokratis.  "Dikhawatirkan akan menghambat kolaborasi yang sudah berjalan baik," kata Penny.

Baca juga:  BRIN: Belanja Riset Harus Pertimbangkan Kemanfaatan Jangka Panjang

Menanggapi hal tersebut, Handoko berjanji akan mengevaluasi dan mereformulasikan regulasi perizinan penelitian menjadi lebih sederhana. Hal ini demi menciptakan kerja sama yang lebih baik dari sebelumnya.

Hubungan Bilateral

Penny Wiliams menambahkan, bahwa Australia dan Indonesia memiliki komitmen yang besar dalam menjalankan hubungan bilateral. Hal ini terlihat dari Kedutaan Besar Australia di Indonesia yang merupakan salah satu yang terbesar saat ini.

Ditambah lagi Australia memiliki Konsulat Jenderal di Makassar, Surabaya, dan Bali. Ia juga menekankan hubungan ekonomi kedua negara sebagai hal prioritas.

“Bagi Australia, keterlibatan ekonomi merupakan prioritas mutlak, dalam konteks yang luas bukan hanya perdagangan tetapi juga kolaborasi di dalamnya termasuk teknologi, investasi, riset, dan hubungan people to people terutama pada saat kita dihadapkan dengan tantangan pandemi covid–19,” jelas Penny.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan