Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko (kanan) dan Dubes Australia untuk Indonesia, Penny Wiliams (kiri) . Foto: Zoom
Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko (kanan) dan Dubes Australia untuk Indonesia, Penny Wiliams (kiri) . Foto: Zoom

48 Unit Riset Bakal Bergabung di Bawah BRIN

Citra Larasati • 08 Juli 2021 17:44
Jakarta:  Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko mengatakan, fokus utama riset BRIN ke depan salah satunya adalah mengintegerasikan lembaga penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan (litbangjirap) yang ada di Indonesia.

Handoko mengatakan, BRIN saat ini sedang berfokus untuk mengintegrasikan lembaga litbang pemerintah seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan termasuk lembaga litbang yang ada di Kementerian/Lembaga (K/L).

Menurut Handoko, setidaknya ada sekitar 48 unit riset yang akan bergabung dalam BRIN. "Selain itu, setidaknya dalam jangka pendek-menengah, kami akan berfokus dalam bidang digital green blue economy. Khususnya sumber daya alam dan keanekaragaman yang kami miliki termasuk keanekaragaman hayati, geografi, serta seni, dan budaya," jelas Handoko.

Oleh karena itu, Handoko menilai sangat penting untuk memiliki dan terus meningkatkan kolaborasi dengan mitra internasional, salah satunya Australia. Terlebih untuk peningkatan kapasitas peneliti atau sumber daya manusia melalui skema mobility program antara Indonesia dengan Australia seperti Post-Doctoral Fellowship.

“Saya akan menjadikan BRIN sebagai enabler untuk kegiatan riset dan akan membuka banyak global open platform pada fasilitas riset yang kita miliki, di antaranya Cibinong Science Center yang akan menjadi global platform untuk bidang biodiversity, Pusat Observasi Keantariksaan di Kupang dan pegembangan kapal-kapal riset," sebut Handoko.

Baca juga:  Peneliti Australia Keluhkan Izin Penelitian di Indonesia Terlalu Kaku

Senada dengan Handoko, Duta Besar Australia untuk Indonesia YM Penny Wiliams juga mengungkapkan, bahwa Australia dan Indonesia memiliki komitmen yang besar dalam menjalankan hubungan bilateral. Hal ini terlihat dari Kedutaan Besar Australia di Indonesia yang merupakan salah satu yang terbesar saat ini.

Ditambah dengan memiliki Konsulat Jenderal di Makassar, Surabaya dan Bali. Ia juga menekankan hubungan ekonomi kedua negara sebagai hal prioritas.

“Bagi Australia, keterlibatan ekonomi merupakan prioritas mutlak, dalam konteks yang luas bukan hanya perdagangan tetapi juga kolaborasi di dalamnya termasuk teknologi, investasi, riset, dan hubungan people to people terutama pada saat kita dihadapkan dengan tantangan pandemi covid–19,” jelas Penny.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan