Baju anti peluru dari limbah sawit ciptaan dosen IPB Siti Nikmatin. Foto: Dok IPB.
Baju anti peluru dari limbah sawit ciptaan dosen IPB Siti Nikmatin. Foto: Dok IPB.

Dosen IPB Ciptakan Baju Anti Peluru dari Limbah Sawit

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Arga sumantri • 10 September 2020 11:43
Bogor: Peneliti IPB University dari Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Siti Nikmatin membuat baju anti peluru dari serat tandan kosong kelapa sawit (TKKS).
 
Sebelumnya, Nikmatin juga berhasil membuat helm Green Composite (GC) yang menggunakan filler serat TKKS pada ukuran mikropartikel. Setelah diteliti lebih lanjut, serat TKKS ternyata juga mampu menyerap energi pada laju yang sangat tinggi pada saat tumbukan. Kemudian, ide tersebut berkembang untuk membuat diversifikasi produk berbahan serat TKKS woven pada aplikasi bahan anti peluru.
 
Ia menjelaskan, dari hasil treatment yang dilakukan, biomasa TKKS menjadi serat dengan kandungan lignoselulosa. Ternyata, TKKS ini memiliki potensi tinggi dalam menyerap energi tumbukan. Apalagi, jika disusun dalam bentuk anyaman dengan orientasi sudut tegak lurus pada sistem komposit laminated atau sandwich.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Melalui penambahan coating material anti panas, serat TKKS woven dapat menahan api dalam waktu 30 detik. Hal ini yang digunakan dalam perancangan baju anti peluru," terang Nikmatin melalui keterangan tertulis, Kamis, 10 September 2020.
 
Baca:Mahasiswa UNS Rancang Alat Bantu Dengar untuk Tunarungu
 
Kemudian, Nikmatin melakukan uji tembak menggunakan pistol glock dengan peluru MU1-TJ pada jarak efektif 25-50 meter. Baju anti peluru ini terbukti mampu menahan peluru tersebut.
 
"Namun baju anti peluru ini masih belum mampu untuk menahan tembakan pistol laras panjang. Sehingga masih memerlukan riset lanjutan," imbuhnya.
 
Dengan adanya potensi baru bahan baju anti peluru, akan menjadi alternatif pilihan untuk kebutuhan dalam negeri. Sepengetahuan Nikmatin, bahan baku rompi anti peluru masih 100 persen impor.
 
"Karena pentingnya pengembangan riset ini, saya berharap riset dapat dilanjutkan menjadi penelitian terapan atau lanjutan. Dua sampai tiga langkah lagi menuju komersialisasi," ucapnya.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif