Limb pun memaparkan jika anak yang bermain musik lebih terstimulasi kesenangan otaknya. Atau istilahnya brain's reward area.
Limb membuktikannya dengan membuat perbandingan. Bagaimana otak anak yang terstimulasi musik dan mana yang tidak terstimulasi.
"Dan apa yang kami lakukan adalah eksperimen serius dalam jangka masa dari 9 hingga 11 tahun orang yang tidak pernah memiliki pelajaran piano. Kami melihat konektivitas fungsi di bagian-bagian reward dari otak yang lebih aktif ketika anak memainkan suatu musik," ungkap Limb dalam forum Brain and Music di Tsinghua Southeast Asia, Kura-kura, Bali dikutip dari instagram @prof.stellachristie, Sabtu, 17 Januari 2026.
"Pun dampaknya, kata dia, aktivitas otak anak yang mengenal dan memainkan musik lebih mampu improve, ada aktivitas lebih besar dalam konektivitas otaknya," sebut dia.
Ia menduga stimulasi musik itu pula yang membuat anak lebih kreatif terhadap sejumlah aktivitas. Karena itu menurutnya keberadaan musik menjadi sangat penting. "Jadi musik ini menunjukkan patron anak bisa bergerak fungsi dalam otaknya, terstimulus kesenangan otaknya," imbuh dia.
Pada kesempatan itu ia pun membayangkan bagaimana perkembangan otak anak tanpa musik. Misalnya yang kemungkinan terjadi saat musik belum dapat direkam.
Menurutnya, pada masa itu ada patron lain yang menggerakkan anak selain musik. Atau bahkan anak-anak mendapatkan musik dari gaya freestyle seperti rap atau musik vokal berirama cepat dengan rima tertentu.
Menurutnya rap memiliki aktivitas bahasa intensif. Rap, kata dia, juga memiliki alur identik dengan musik.
"Dalam freestyle pada dasarnya adalah satu cara tertua dan istimewa yang juga bisa menghidupkan kreativitas yang tentu intensif terhadap otak," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News