Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, membongkar sains di balik fenomena tersebut. Menurutnya, Eropa mendidih bukan karena satu faktor tunggal.
“Fenomena ini merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang luas pada musim panas dengan perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah, di mana Eropa berada pada zona wilayah ini," jelasnya dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.
Sonni memaparkan, gelombang Rossby adalah gangguan atmosfer berskala raksasa, berkisar antara 4.000 hingga 6.000 kilometer yang sanggup merombak pola angin, tekanan udara, hingga suhu. Gelombang ini lahir saat angin baratan menabrak rintangan raksasa seperti Pegunungan Rocky atau Pegunungan Andes.
“Saat musim panas di belahan bumi utara, posisi matahari menyebabkan daratan mengalami pemanasan maksimum. Karena daratan memiliki kapasitas menyimpan panas yang lebih rendah dibandingkan lautan, suhu udara di atasnya meningkat lebih cepat. Pemanasan berskala benua tersebut kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby hingga memicu terjadinya gelombang panas,” ujarnya.
Situasi di benua biru makin parah karena gerakan gelombang Rossby ini melambat saat musim panas. Alhasil, udara panas nongkrong lebih lama. Kondisi ini makin ekstrem dengan hadirnya Omega Block, sebuah pola tekanan tinggi yang mengunci udara panas seperti di dalam oven.
"Pada musim panas, gelombang Rossby bergerak lebih lambat sehingga medan suhu tinggi bertahan lebih lama pada satu wilayah. Ditambah adanya fenomena Omega Block, udara panas menjadi terperangkap sehingga gelombang panas berlangsung lebih lama," ujarnya.
Namun, apakah rentetan cuaca ekstrem ini otomatis menjadi bukti absolut perubahan iklim? Sonni mengingatkan agar publik tidak buru-buru mengambil kesimpulan tanpa riset sains yang kuat.
"Dinamika atmosfer alami tetap harus menjadi bagian penting dalam analisis sebelum menyimpulkan pengaruh perubahan iklim terhadap suatu kejadian panas ekstrem," katanya.
Lalu, Bagaimana Nasib Indonesia?
Melihat Eropa yang kepanasan, wajar jika Gen Z di Tanah Air ikut overthinking. Secara sains, anomali iklim di satu belahan bumi memang bisa 'menyenggol' wilayah lain lewat sistem telekoneksi."Ada kaitannya walaupun tidak secara langsung, misalnya melalui telekoneksi antara Madden-Julian Oscillation (MJO) dengan sirkulasi atmosfer di wilayah ekstratropis," jelasnya.
Kabar baiknya, Indonesia punya karakter iklim yang berbeda, sehingga gelombang panas ala Eropa tidak akan terjadi di sini. Tapi jangan lega dulu, suhu panas ekstrem tetap mengintai kawasan perkotaan di Indonesia akibat efek urban heat island dan masifnya alih fungsi lahan hijau menjadi beton.
"Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem, tetapi tidak seperti di Eropa. Faktor yang lebih dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar," ungkapnya.
Sebagai langkah survival dan adaptasi ke depan, penambahan ruang terbuka hijau adalah harga mati. Pemerintah dan masyarakat harus proaktif mengembalikan paru-paru kota.
"Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fungsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda