Fenomena pesisir dan laut ini ternyata saling terhubung. Pergerakan material dari hulu ke hilir butuh pantauan riset yang kuat agar solusinya tidak salah sasaran. Peneliti Pusat Riset Oseanografi (PRO) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budhi Gunadharma Gautama, membongkar fakta mengejutkan soal sampah laut di Indonesia.
Menurutnya, masalah utama justru berakar di daratan, di mana sampah 'hanyut' melalui sungai besar dan menetap di kawasan pesisir. “Berdasarkan model simulasi yang digunakan dalam penelitian, sebanyak 92 persen aliran sampah berakhir di pantai Indonesia. Akumulasi sampah tersebut cukup tinggi di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa dan Bali,” ungkap Budhi dalam forum Ocean Talks seri ke-9 di KST Apriliani Soegiarto BRIN, dalam keterangannya dikutip Selasa, 6 Oktober 2026.
Budhi merinci bahwa wilayah pesisir seperti Jakarta dan destinasi wisata dunia, Bali, menjadi beberapa 'korban' utama dari akumulasi sampah darat ini. “Jawa ini ternyata terakumulasi di beberapa titik yang tinggi. Di Jakarta ya. Ini titik-titik yang di pantai Indonesia yang banyak sampah-sampah ini terdampar. Bali juga salah satu daerah yang terdampak. Jadi, memang Indonesia sampahnya memang lebih banyak berkumpul di Indonesia sendiri,” lanjut Budhi.
Menyikapi hal ini, Budhi menilai aksi bersih-bersih laut dan pantai (beach clean-up) saja tidak akan pernah cukup. Solusi paling radikal dan efektif harus ditekan langsung dari sumber utamanya.
“Pencegahan masalah sampah itu harus memang dimulai dari darat, dan jangan sampai dirilis ke laut,” tegasnya.
Pemodelan Riset: Kunci Tegakkan Hukum Lingkungan
Bukan sekadar melacak sampah, pemodelan arah arus laut ini juga diklaim ampuh untuk memetakan penyebaran limbah berbahaya atau tumpahan minyak. Data saintifik ini sangat esensial untuk membidik arah material pencemar.Di atas kertas, regulasi perlindungan lingkungan RI sudah cukup mumpuni. Namun, tantangan terbesarnya ada pada pengawasan dan pembuktian ilmiah di lapangan. Di sinilah riset BRIN dituntut hadir menjadi 'senjata' bagi pemerintah dan penegak hukum untuk mengawal dan menindak kasus pencemaran secara presisi.
Ancaman Sedimentasi Ubah Wajah Pesisir
Selain isu sampah, ancaman lain yang tak kalah serius datang dari perubahan distribusi sedimen laut. Peneliti PRO BRIN, Wahyu Budi Setyawan, mengangkat studi kasus krisis sedimentasi di pesisir Bengkulu.Wahyu menyoroti fenomena pendangkalan alur pelabuhan yang terjadi berulang kali. Ironisnya, ketika satu titik mengalami penumpukan sedimen parah, kawasan di sebelahnya justru mengalami erosi karena kehilangan suplai pasir alaminya.
Jika dibiarkan, bom waktu ekologis ini tak cuma mengganggu aktivitas kapal niaga yang bersandar, tapi berisiko menenggelamkan denyut nadi ekonomi pariwisata warga sekitar. “Kalau ini tidak ditangani, efeknya apa? Maka suplai sedimen ke pantai panjang pun akan terpengaruh,” kata Wahyu.
Dua paparan riset dari forum Ocean Talks ini menegaskan bahwa krisis hulu-hilir adalah satu kesatuan yang tidak bisa diurai separuh-separuh. Data dan pemodelan saintifik diharapkan tak cuma berakhir menumpuk di jurnal akademik, melainkan menjadi kompas utama bagi pemangku kebijakan untuk merumuskan aksi nyata penyelamatan laut Indonesia.