Jakarta: Rambutan yang biasanya menjadi “penanda musim” akhir tahun kini tak lagi mudah dijumpai. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Pakar buah tropika dari IPB University, Prof Sobir mengungkapkan, hilangnya musim rambutan dipengaruhi oleh faktor iklim, fisiologi tanaman dan pergeseran nilai ekonomi.
Rambutan adalah Rambutan, buah tropis khas Asia Tenggara, mudah dikenali dari kulitnya yang berambut berwarna merah atau kuning. Daging buahnya yang manis dan segar kaya akan vitamin C, serat, serta mineral yang bermanfaat bagi pencernaan dan imunitas.
Buah ini dinamai "rambutan" karena ciri khas kulitnya yang berbulu dan masih satu keluarga dengan leci dan lengkeng. “Ada tiga kemungkinan utama penyebab minimnya produksi rambutan pada akhir 2025,” kata Prof Sobir dalam siaran persnya, dikutip Selasa, 6 Januari 2026.
Ia mengurai, faktor pertama adalah kondisi iklim yang cenderung mengalami ‘kemarau basah’ pada tahun 2025 sehingga induksi pembungaan tidak berlangsung optimal. Kedua, tanaman rambutan memiliki sifat berbuah lebat pada satu tahun dan cenderung berkurang pada tahun berikutnya (biannual bearing) karena cadangan hasil fotosintesis terkuras pada panen sebelumnya, sehingga produksi panen berikutnya berkurang.
“Pohon buah-buahan tropika seperti rambutan akan berbunga bila tanaman memiliki cadangan hasil fotosintesis yang cukup dan mendapat periode kering selama 2–4 minggu. Biasanya tanaman berbunga di awal musim hujan, sekitar Oktober–November, dan dipanen pada Desember saat musim hujan,” kata Sobir.
Ia juga menanggapi anggapan bahwa pohon rambutan kini semakin sedikit atau tidak lagi berbuah. Menurutnya, kedua hal tersebut bisa saja terjadi. Nilai ekonomi rambutan yang relatif rendah membuat petani atau pemilik pohon enggan memanen ketika jumlah buah sedikit karena dianggap tidak ekonomis.
Terkait kemungkinan pergeseran musim buah, Prof Sobir menyatakan hal tersebut sangat bergantung pada pergeseran pola musim. Jika periode kemarau berlangsung jelas dan cukup kering, produksi buah pada musim berikutnya berpotensi meningkat.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebanyak 94,7 persen wilayah Indonesia pada 2026 mengalami curah hujan tahunan dengan kategori sifat hujan Normal, dengan curah hujan berkisar antara 1.500-4.000 mm/tahun. Sedangkan sebagian kecil (5,1 persen) wilayah lainnya diprediksi mengalami curah hujan tahunan dengan kategori Atas Normal. Dengan demikian, dapat diharapkan produksi rambutan tahun 2026 kembali normal.
Baca Juga :
Ahli ITB Ungkap Peran Hutan Alami Cegah Banjir dan Longsor, Tak Bisa Digantikan Kebun Sawit
Cek Berita dan Artikel yang lain di