Jakarta: Ketika seseorang termotivasi, termasuk kehilangan dorongan melakukan sesuatu dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Mulai dari mengambil keputusan besar seperti mengubah karier hingga hal sederhana seperti memilih tayangan televisi.
Tindakan seseorang pada dasarnya dipengaruhi oleh apa yang mendorong kita dan hal-hal yang dianggap dapat memberikan manfaat.
Dalam sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), para peneliti dari Universitas Nagoya, Jepang, menemukan adanya neuron yang menghasilkan zat kimia bernama orexin. Dalam penelitian, zat ini memiliki peran penting mendorong motivasi terhadap makanan pada tikus.
Neuron ini berada di bagian hipotalamus, yaitu salah satu bagian otak yang sebelumnya telah dikaitkan dengan kewaspadaan, pengeluaran energi, serta motivasi. Melalui penelitian tersebut, para peneliti berusaha memahami lebih jauh bagaimana aktivitas neuron tersebut berkaitan dengan munculnya motivasi.
Melansir dari sciencealert.com, eksperimen yang dilakukan menunjukkan orexin dapat memengaruhi perilaku seseorang dari waktu ke waktu. Zat ini juga berkaitan erat dengan proses menentukan apakah suatu hadiah sepadan dengan usaha yang harus dilakukan untuk mendapatkannya. Pertimbangan tersebut menjadi bagian penting dalam munculnya motivasi.
Para peneliti menemukan aktivitas orexin berkaitan dengan proses munculnya motivasi pada tikus. Aktivitas neuron tersebut berubah sesuai dengan perkiraan terhadap hadiah yang akan didapatkan dan seberapa besar usaha yang diperlukan untuk memperolehnya.
Respons neuron orexin secara khusus dipengaruhi oleh seberapa besar usaha yang diperlukan. Perubahan aktivitas tersebut dapat menunjukkan adanya proses memperkirakan nilai suatu imbalan dibandingkan dengan usaha yang harus dikeluarkan.
Peneliti melakukan modifikasi genetik yang mampu meningkatkan atau membatasi aktivitas neuron yang menghasilkan orexin. Dalam pengujian tersebut menunjukkan ketika neuron orexin diaktifkan, tikus menjadi lebih gigih dalam berusaha mendapatkan makanan. Namun, ketika aktivitas neuron tersebut dihambat, tikus justru lebih cepat menyerah.
Pemantauan aktivitas neuron orexin secara langsung menunjukkan aktivitas neuron tersebut meningkat sebelum tikus mendapatkan hadiah, kemudian menurun setelah hadiah diperoleh.
Semakin besar usaha yang harus dilakukan tikus untuk mendapatkan hadiah, semakin kuat pula aktivitas pada neuron-neuron tersebut. Temuan ini menunjukkan aktivitas orexin mungkin dapat digunakan sebagai penanda tingkat usaha yang diperlukan untuk memperoleh hadiah yang diharapkan.
Ahli Saraf dari Universitas Nagoya, Hiroyuki Mizoguchi, mengatakan penilaian tersebut menunjukkan adanya perubahan signifikan pada aktivitas neuron orexin yang dipengaruhi oleh hadiah yang diharapkan serta usaha yang diperlukan. Menurutnya, temuan ini mengindikasikan adanya mekanisme yang berpotensi mengubah eskpetasi menjadi tindakan yang dapat dipertahankan.
Dalam pengujian lanjutan, peneliti mengendalikan aktivitas neuron orexin ketika tikus mengantisipasi hadiah. Hasilnya, penurunan aktivitas neuron tersebut tampak menyebabkan berkurangnya motivasi, sementara peningkatan aktivitasnya tidak menunjukkan adanya peningkatan motivasi.
Ada kemungkinan neuron-neuron tersebut berperan penting dalam mempertahankan motivasi pada tingkat dasar tertentu. Namun, cara kerjanya tidak sepenuhnya seperti pengatur yang dapat dinaikkan atau diturunkan begitu saja.
Para peneliti menilai orexin memiliki peran penting dalam menghubungkan ekspektasi terhadap hasil yang diprediksi dengan perilaku yang didorong oleh motivasi. Mereka juga menyebut pengaturan aktivitas orexin secara optimal diperlukan untuk membantu mengatasi berbagai kesulitan dalam menjalankan perilaku yang termotivasi.
Seluruh temuan tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana penerapannya pada otak manusia. Namun, manusia juga memiliki sistem orexin, sehingga temuan ini dapat menjadi pertanyaan penting dalam penelitian berikutnya mengenai kemampuan seseorang untuk berkomitmen pada suatu tugas dan mempertahankan komitmen tersebut.
Gangguan pada motivasi berkaitan dengan sejumlah gangguan mental, termasuk depresi dan kecanduan. Dengan memahami lebih jauh mengenai cara kerja orexin di dalam otak, para peneliti berharap pemahaman tersebut dapat membantu dalam menangani kondisi-kondisi tersebut.
Namun, penerapan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Selanjutnya, peneliti ingin mempelajari sirkuit otak yang menjadi jalur masuk dan keluar serta terhubung dengan neuron orexin. Penelitian ini bertujuan mengetahui rangkaian peristiwa alami yang menyebabkan neuron tersebut aktif atau tidak aktif.
Motivasi merupakan salah satu faktor dasar yang mendorong perilaku, sehingga setiap temuan baru mengenai mekanisme kerjanya berpotensi memberikan dampak yang luas.
Para peneliti menilai pemahaman yang lebih mendalam mengenai mekanisme oreksinergik yang mendasari perilaku termotivasi dapat memberikan wawasan tentang bagaimana motivasi dapat dikembangkan serta bagaimana gangguan yang berkaitan dengannya dapat diatasi (Levina Fidelia)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan