Lima mahasiswa USK yang menciptakan Detektor Penyakit Paru Obstruksi Kronis. Foto. Dok. USK
Lima mahasiswa USK yang menciptakan Detektor Penyakit Paru Obstruksi Kronis. Foto. Dok. USK

Mahasiswa USK Ciptakan Detektor Penyakit Paru Obstruksi Kronis

Pendidikan inovasi Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian Universitas Syiah Kuala
Citra Larasati • 26 September 2021 08:10
Jakarta:  Lima mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) dari lintas fakultas yang berbeda menciptakan sebuah alat detektor untuk menentukan suara napas yaitu mengi atau wheezing.  Suara napas ini sering ditemukan pada penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dan Asma yang terintegrasi secara real-time dengan gadget. 
 
Kelima mahasiswa ini mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) yang diketuai oleh Khalilullah dari Fakultas Kedokteran. Anggota kelompok ini terdiri dari Delia Putri Sanur dan Adinda Zahra Ayufi Ramadhani dari Fakultas Kedokteran, Muhammad Yusuf Kardawi dari Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro dan Komputer dan Fawzi Linggo dari Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro.
 
Pembuatan alat detektor ini dibimbing oleh Dosen Fakultas Kedokteran Universitas USK, Dr. dr. Budi Yanti, Sp.P (K). Perakitan alat detektor ini diprakarsai karena fakta di lapangan masih banyak ditemukan adanya perbedaan persepsi di kalangan tenaga kesehatan dalam menentukan suara wheezing dengan pasti.  Terutama pada pasien dengan kelainan obstruksi saluran napas seperti PPOK dan Asma, hanya dengan menggunakan stetoskop biasa. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sehingga diharapkan alat ini dapat membantu tenaga kesehatan dalam menemukan wheezing pada pasien PPOK dan Asma," kata Khalilullah dikutip dari laman USK, Minggu, 26 September 2021.
 
Ia menjelaskan, peran kecerdasan buatan dalam dunia kedokteran memiliki potensi pengembangan dan peningkatan dalam deteksi dini penyakit, penurunan angka kesakitan dan kematian penyakit saluran napas di masa yang akan datang. Salah satu keuntungan dari detektor ini yang dapat diterapkan dalam bidang pulmonologi adalah mampu menentukan suara wheezing dengan pasti berdasarkan pada frekuensi tertentu. 
 
Alat detektor ini memungkinkan pasien dengan dokter terhubung tanpa adanya kontak fisik karena alat kami telah menerapkan sistem Internet of Things. Alat ini dibangun menggunakan Algoritma Convolutional Neural Network (CNN).
 
Baca juga:  Peneliti UI Raih Pendanaan Riset Fisika Medis dari Badan Atom Dunia
 
Hasil perekeman suara akan diproses sebelum dilakukan deteksi. Detektor ini dirakit dengan perangkat yang ramah lingkungan dan terintergrasi dengan gawai secara real-time. 
 
"Dengan menggunakan MFCC (Mel Frequency Cepstral Coefficients), suara dinding dada pasien dikirimkan ke database sehingga dapat ditampilkan pada Aplikasi yang telah selesai dirakit. Perancangan software aplikasi berbasis android menggunakan freamwork Flutter yang dengan alat juga dengan database sehingga aplikasi dapat mengambil hasil gambar MFCC yang terdeteksi," tuturnya.
 
Pemasangan alat diletakkan pada dinding dada pasien dengan tidak ada penghalang dari stetoskop dengan pasien. Alat detektor ini pada aplikasi yang diciptakan menggunakan nama ESCAPED, yaitu Whezing Sound for Asthma COPD Diagnose.
 
ESCAPED adalah alat detektor suara wheezing melalui getaran suara dinding dada pada pasien dengan kelainan obstruksi saluran napas seperti penyakit PPOK atau asma. 
 
Detektor tersebut dirakit dengan perangkat yang ramah lingkungan, terintergrasi dengan gawai secara real-time sehingga dapat digunakan kapan saja dan nyaman digunakan oleh pasien. Khalilullah menyampaikan bahwa, kelompoknya baru saja melewati tahap Monitoring dan Evaluasi (Monev) PKP-PKM 2021 yang diadakan pada Sabtu 11 September 2021. 
 
Saat ini, alat detektor sedang tahap pengujian langsung pada penderita PPOK dan Asma juga dibandingkan pada orang dengan suara pernapasan normal. "Untuk tetap menjaga originalitas alat detektor hasil ciptaan bersama, tim juga akan mengajukan sertifikat hak cipta ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) dan melakukan publikasi di jurnal terakreditasi Nasional agar alat detektor ini semakin dikenal di kalangan dunia pendidikan dan bermanfaat untuk tenaga kesehatan di masa selanjutnya," pungkas Khalilullah.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif