Hal tersebut pun diluruskan dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University. dr Widya Eka Nugraha, MSiMed. Dosen Ilmu Biomedik Biologi Sel dan Molekuler tersebut menjelaskan, dari sudut pandang medis, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang konsisten menunjukkan penggunaan earphone bluetooth merusak otak manusia.
“Tidak semua radiasi berbahaya bagi tubuh manusia, karena dampaknya bergantung pada jenis radiasi, besar paparan, durasi, serta jaraknya,” ucap Widya, dalam siaran persnya, dikutip Selasa, 24 Februari 2026.
Menurut Widya, bluetooth memancarkan gelombang radio atau radio frequency (RF) yang termasuk radiasi non-ionisasi. Radiasi ini berbeda dengan radiasi pengion seperti sinar X (X-ray) atau sinar gamma yang diketahui dapat merusak DNA pada dosis tertentu.
“Pada paparan RF, mekanisme efek biologis yang terjadi adalah pemanasan jaringan (thermal effect). Sejauh ini, alat bluetooth yang beredar di pasaran memenuhi standar keamanan dan tidak memberikan efek yang signifikan terhadap jaringan tubuh manusia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Widya mengutip tinjauan sistematis Karipidis, dkk (2024) mengenai paparan RF dan risiko kanker, termasuk tumor otak. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa paparan dari penggunaan ponsel kemungkinan tidak meningkatkan risiko kanker otak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2010 juga menyatakan bahwa riset tidak menunjukkan bukti konsisten adanya dampak kesehatan merugikan dari paparan RF pada level di bawah batas aman.
Pola Penggunaan
Alih-alih radiasi, Widya menekankan bahwa risiko kesehatan yang lebih realistis justru berkaitan dengan pola penggunaan. Ia menyebut gangguan pendengaran akibat volume terlalu keras dan durasi terlalu lama sebagai risiko paling sering ditemui di layanan klinik.Selain itu, terdapat risiko infeksi telinga luar apabila earphone dipakai lama dalam kondisi lembap, jarang dibersihkan, atau digunakan bergantian. Ia juga mengingatkan potensi gangguan fokus dan keselamatan saat berkendara atau beraktivitas di ruang publik, karena pengguna dapat kehilangan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar.
Keluhan muskuloskeletal dan kelelahan akibat kebiasaan menunduk lama serta screentime panjang turut menjadi perhatian. Terkait studi Zhou, dkk (2024) yang mencoba mengaitkan penggunaan headphone bluetooth dengan luaran tertentu seperti benjolan kelenjar gondok, ia menilai desain penelitian tersebut sulit membuktikan hubungan sebab-akibat. Karena itu, perlu kehati-hatian dalam interpretasinya.
Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan penggunaan volume secukupnya, membatasi durasi dengan jeda teratur, menjaga kebersihan earphone, serta mengutamakan keselamatan. “Bila telinga nyeri, gatal berat, keluar cairan, berdenging menetap, atau pendengaran menurun, hentikan sementara dan periksa ke dokter,” ujar Widya.
Ia juga menganjurkan penggunaan earphone dengan konduksi tulang (bone conduction) dalam situasi tertentu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News